Ketika Gelar-mu Telah Diakui




 Prolog 

(Hadiah Manis Untuk Kucing-Kucingku)

Alhamdulillah,  Permohonan Surat untuk diakui gelar S2-ku sudah disetujui. 

Pikiran pertamaku--ketika diberi tahu hal ini adalah rasa bersyukur. 

Bahwa Sekolah S2-ku Sepuluh tahun yang lalu,  bisa diakui secara resmi sehingga ini bisa berpengaruh naiknya pangkatku menjadi IV/b kalau Pensiun Nanti

Meski tidak menjabat sebagai Jabatan Struktural di Kantorku--karena impianku memang pengen jadi Staf biasa saja hingga akhir Karir Pegawaiku. 



Alhamdulillah, ini bisa jadi hadiah yang manis buat kucing-kucingku dan gaji Pensiunnya bisa buat nambahin Snack Makanan Kucing-Kucing di rumah,  hehehe  

 

 (Bab I) Ilmu Padi Seorang Profesor



Aku kalau keingat soal gelar--jadi ingat curhatnya Dosenku--beliau itu punya gelar Guru Besar atau bisa dikatakan Profesor--sudah lulus S3 dan lulus ujian Profesor. 

Tapi beliau bilang--gelar-nya itu hanya berlaku di Sistem Akademik Perkuliahan saja,  bukan berlaku di Lingkungan Hidup beliau. 

Karena beliau--lebih suka dikenal sebagai orang biasa,  dibanding seorang Profesor di lingkungan rumahnya,  kadang Titel-pun beliau enggan mencantumkan kalau di acara Arisan Tetangga atau Saudara Beliau. 

Inspiratif banget. 

Tingginya gelar gak bikin beliau sombong dan belagu,  malah beliau ini persis kata Pepatah--seperti Ilmu Padi--Semakin berisi,  Semakin merunduk.  Yang Artinya--Semakin Cerdas Seseorang Maka Semakin ia Rendah Hati. 

 

(Bab 2 ) Tidak Ada Sebab Akibatnya



Jadi keingat sindiran manis teman-temanku ketika aku sekolah S2--mereka bilang--karena aku pengen jadi Kepala Dinas atau Pimpinan suatu Instansi.  Hehehe. 

Padahal aku sekolah S2 --10 tahun yang lalu--karena ingin mengambil kesempatan yang ada--ketika salah satu Dosen pengujiku--merekomendasikan aku untuk Sekolah lagi dengan memberikan Surat Rekomendasinya sebagai Dosen Yang Bertanggung Jawab atas keinginanku Kuliah Lagi. 

Aku ambil kesempatan itu--meski ijazah S1ku belum keluar--aku sudah ikut ujian masuk S2 dan lulus. 

Kemudian--disaat itu biaya kuliah S2 juga --masih murah banget-- sekitar 6 juta Setiap Semesternya,  sekarang mungkin sudah 10 juta setiap semesternya. 

Lulus dengan cepat juga karena ingin cepat bekerja menjadi Dosen--karena katanya kalau sekolah S1 dan S2 dijurusan yang sama--bisa memenuhi kualifikasi persyaratan jadi Dosen. 

Berhubung kemarin dulu--gak ada lowongan Dosen yang buka di Kuliahku dan aku juga beberapa kali ikut ujian jadi Dosen PNS (Baca: Widyaswara)  --gak lulus,  karena aku tidak ahli mengajar orang dewasa. 

Akhirnya--aku putuskan--aku jadi penulis saja-lah,  meski gak bisa jadi Dosen--setidaknya aku bisa terus belajar untuk menulis hal-hal yang aku anggap menarik dan bisa aku bagi dengan orang lain. 

Karena kata orang bijak--bahagia itu harus di bagi---soalnya kalau bahagia sendirian itu gak enak--gak dapat pahala jariyah dan gak dapat rejeki yang melimpah 😊

Nah,  aku jadi keingat kata Ponakanku yang kritis--dia gak pengen sekolah S2 --karena melihat perjalanan hidupku yang kaya Sinetron Indosiar,  hehehe. 

Sekolah tinggi-tinggi malah ujung-ujungnya masuk Rumah Sakit Jiwa πŸ˜‚

 

(Bab 3) Rumah Sakit Jiwa Dan Cinta



Aku kalau keingat soal Rumah Sakit Jiwa--suka senyum sendiri--itu kenangan paling indah di hidupku,  karena orang-orang disana penuh semangat,  full empati dan tulusnya bisa diuji 😊

Dan Rumah Sakit Jiwa itu bukan Tempat Sampah Masyarakat sehingga harus di benci dan di takuti,  karena sebenarnya Rumah Sakit Jiwa itu tempat untuk menenangkan pikiran,  istirahat lebih lama,  dan tempat paling asik memunculkan ide-ide menulisku

Soalnya disana, kita setiap hari di perhatikan --dari di cek tekanan darah-nya, di beri cinta tulus para Perawat yang tidak mengenal kita, di beri makanan kesukaan kita, kadang di belikan minuman yang enak dan di ajari untuk mencintai diri kita lebih banyak misalnya gak boleh begadang, gak boleh sedih, disana di bolehkan Menyanyi, Menari, Latihan Yoga, Nulis Diary, Baca Puisi atau cuma sekedar memperhatikan orang-orang yang silih berganti datang ke ruang perawatan kita.

Disana,  aku lebih suka nulis banyak hal--buktinya dari pengalaman aku disana--aku bisa banyak menulis tentang Rumah Sakit Jiwa di media sosial manapun,  seperti aku suka sharing pengalaman ku di komentar Channel Rian TV atau nulis kesan-kesanku selama menginap di Rumah Sakit Jiwa --pada blog anaatari.com

Baca Linknya disini : 

1.  My Love Hospital

2. Terkabulnya Doa Yang Tak Pernah Terucap 

karena kalau aku ingat Rumah Sakit Jiwa--aku mengenal apa arti Cinta tulus dan alasan untuk hidup bahagia.

 Jadi hubungan Sekolah S2-ku dengan Rumah Sakit Jiwa--itu gak ada sebab akibat-nya. 


(Bab 4) Kegigihan Semangat Sekolah



Karena aku sekolah S2 itu 10 tahun yang lalu--dilalui dengan Ceria dan mulus,  bisa dapatkan banyak Beasiswa karena Nilai Prestasiku tinggi dengan IPK rata-rata 3,5 keatas dan lulus sebagai Mahasiswa Termuda di Angkatanku dulu. 

Tidak memberatkan biaya kuliah sama Abahku yang hanya pensiunan PNS--bahkan aku bisa dapat Puluhan Juta dengan merangkum Tulisan dan membantu konsultasi banyak pihak membuat Karya Tulis Ilmiah,  yang uangnya aku belikan Laptop--untuk menulis Tesisku dan membayar SPP  serta biaya wisudaku.  

Semangat Sekolahku selalu ada meski dulu penyemangat utama Sekolahku sudah meninggal yaitu Mamaku --kudapatkan dari Pamanku--yang rajin banget sekolah sampai Sekolah S3.

 

(Bab 5) Keluarga Adalah Bunga Kehidupan



Beliau menginspirasiku--kalau kita Sekolah terus dan belajar terus--Wawasan itu bakalan luas--beliau itu Profesinya adalah sebagai Widyaswara Senior tapi kalau ngomong sama aku--mana pernah menggurui--santun dan lembut banget

Bahkan sering di kasih nasehat, "jangan lupa sekolah lagi" atau diberi semangat kata-kata manis,  "Keren kamu nak--bisa lulus secara Cumlaude"

Padahal--aku gak lulus secara Cumlaude--cuma lulus sebagai Peringkat Terbaik Pertama di Kuliahku--soalnya salah satu mata kuliahku ada nilai C--kalau Cumlaude--gak ada nilai C-nya, hehehe

Bisa ditebak dong. Nilai C-nya itu apa,  hehe.  Betul sekali,  itu adalah mata kuliah Statistik,  tapi aku bangga bisa dapat C--karena kebaikan hati dosennya Sama mahasiswa-nya yang bego banget soal matematika ini πŸ˜‚

Yah-- namanya Keluargaku--selalu begitu--suka melebihkan sesuatu biar semangatku nambah 😊

Beliau inspiratifku dalam mencari ilmu 

Jadi sekolah itu penting banget!, 

 

(Bab 6) Motivasi Dari Mereka Yang Tidak Biasa



Mau berapapun tingkatannya--karena aku pernah baca--ada seorang Kakek umur  81 Tahun bisa lulus Sarjana S1nya di Amerika dan Seorang anak umur 15 Tahun bisa lulus S3 di India bahkan di Indonesia sendiri--seorang cleaning service di Kampus bisa lulus sekolah S2-nya. 

Masing-masing mereka punya semangat untuk memotivasi orang lain agar terus sekolah sampai kapanpun

Mau di kata pengen  jadi  Kepala Dinas-lah--atau Sekolah tinggi-tinggi malah masuk Rumah Sakit Jiwa atau ada yang nyeletuk--pengen naikin Mahar Nikah kalau lulus sekolah S2,

Masya Allah Tabarakallah πŸ€

 

(Bab 7) Karena Gak Harus Jadi S2 dulu



Semua alasan orang lain itu,  gak ada hubungan sebab akibatnya untuk sekolah S2 di hidupku. 

Karena gak harus jadi S2 juga pengen jadi Kepala Dinas atau Pimpinan --buktinya Presiden Megawati kita dulu--hanya lulusan SMA bisa jadi Pemimpin Indonesia

Karena bukan kuliah S2 juga aku masuk Rumah Sakit Jiwa--tapi  karena berteriak histeris melihat musuh Allah atau karena marah sama kezaliman didepan mata yang tidak bisa di tangani Keluargaku--jadi harus dikasih Suntikan Obat Penenang karena dianggap itu hanya halusinasiku saja

Karena bukan lulus S2 juga,  untuk menaikkan Mahar Nikah seorang Perempuan --karena soal Mahar itu tergantung keinginan Perempuan nya sendiri,  bukan karena sekolah S2-nya--apalagi Kata Rasulullah --sebaik-sebaiknya Perempuan itu yang murah Maharnya

Jadi sahabat

Gak ada hubungan sebab akibat-nya semua alasan yang dikatakan Orang-Orang kritis tersebut dengan mencari ilmu Sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. 

Soalnya yang namanya Sekolah itu--kita itu mencari Ilmu--bukan mencari Muka--itu salah satu kutipan orang bijak. 

Ilmu itu penting --bisa menaikkan derajatmu dan keluargamu. 

 

(Bab 8)  Kebahagiaan Bagi Orang Yang Berilmu



Bukankah bahagia kalau Allah bisa menaikkan derajat kita? 

Selain bisa dapat Pahala dan di akhirat kelak--Allah akan bangga memperkenalkan hamba-hambaNya yang berilmu--namun selalu merasa tidak tahu apa-apa sehingga selalu rendah hati di muka bumi ini. 

Benar kata orang bijak,  semakin kita tahu banyak hal--semakin kita merasa bodoh dan tidak ada apa-apanya di dunia ini. 

Jadi keingat dokter Hewanku--kalau aku perhatikan-- beliau itu gak mirip sama dokter Hewan--penampilannya sangat sederhana,  tapi tutur bahasanya terukur dengan ilmunya dan sopan menyemangati. 

Inspiratif banget,  bahkan beliau mendengarkan serius--cerita kita tentang Kucing yang kita pelihara. 

Padahal beliau ini orang cerdas di bidang Kesehatan Hewan--tapi tidak pernah menganggap remeh Hewan apapun yang datang padanya, bahkan sering membolehkan kita berhutang kalau belum gajian,  baik-nya itu seperti  keluarga sendiri. 

Nah--itu baru namanya Master yang turun gunung. 

 

(Bab 9) Master Yang Turun Gunung



Aku kalau keingat kata-kata "Master Yang Turun Gunung"

Jadi keingat guru Bahasa Indonesiaku--yang pernah memintaku jadi Guru Eskul Jurnalistik di SMA-ku dulu--beliau bilang--aku ini Master yang mau turun gunung karena mau mengajarkan Ilmu menulis pada murid-murid beliau

Padahal,  itu pujian yang tidak benar, Hehehe 

Aku bukan Master di bidang Penulisan,  karena Ijazahku hanya diakui sebagai Magister Sosial Dan Politik Jurusan Kebijakan Publik. 

Tulisan-tulisanku pun hanya beberapa saja masuk Majalah,  Bukuku juga baru diterbitkan nasional tidak banyak,  mengisi Seminar Kepenulisan juga masih di Kota sendiri,  dulu nulis Blog belum seaktif sekarang. 

Mungkin beliau ngomong seperti itu--karena beliau tahu aku masuk di banyak organisasi Penulisan,  salah satunya Forum Lingkar Pena dan Sanggar Sastra Indonesia sebagai Koordinator Humas Dan Perkaderan Penulis dan pernah juga beliau tahu--aku beberapa kali menjadi Guru Jurnalistik Di SD. 

Guruku memang selalu bisa menyemangati--meski beliau tidak seberapa terkenal seperti Penulis Tere Leye,  Atau Penulis Puisi Chairil Anwar--tapi ilmu-ilmu segar-nya dan semangatnya lebih terukir di hatiku

Sebenarnya Beliau lah Master Kungfu Kepenulisan Sesungguhnya,  hehehe πŸ€

Soalnya satu kalimat saja. Bisa sampai aku terinspirasi untuk Menjadi seperti beliau--kesombongan sama sekali tidak ada di jalan yang beliau tempuh sekarang. 

Memang ya!  

Yang namanya Guru itu keren banget hatinya-- jadi selalu nurut apa kata Guru ,  karena Ilmu yang mereka bagi itu penting banget di hidupmu πŸ€

Salam Manis Dariku

Tenggarong,  04 Desember 2020

Sahabat Sehidup Sesurgamu

Rohana Permata Sari


Sumber Tulisan : 

 1. Kekek Umur 81 Lulus S1 di Amerika

2.  Seorang Cleaning Service Lulus S2

3.  Anak Usia 15 Tahun Dari Petugas Kebersihan India Lulus S3


Keterangan Photo : Ketika Gelarmu di akui resmi--bukan hanya rasa bahagia yang hadir --tetapi sebuah keresahan di hati--jika dengan gelar ini,  gak bisa turun dari gunung--yang artinya gak bisa bermanfaat untuk Dunia dan sekitarnya

Doain aku selalu ya,  biar setiap tulisan-tulisanku yang mungil ini bisa bermanfaat sama siapa aja termasuk sama Kamu--yang sudah mau- membaca tulisan ini sampai akhir. 

Karena Kalau kamu bisa bahagia setiap membaca tulisan-tulisanku,  Alhamdulillah aku bisa dapat pahala dan rejeki yang melimpah  dari Allah,  hehehe

Trus bisa bikin Penampungan Kucing Jalanan kaya di Amerika dan Bikin Kuburan Gratis kaya Di Madinah,  Aamiin ya Rabb

Hore,  terkabul deh mimpi-mimpi besarku karena kalian 😊

Aku kasih cerita ini bukan untuk pamer dan riya ya sahabat--dan semoga Allah Jauhkan aku dari sifat itu--ini hanya untuk memotivasi biar semangat Sekolah di mana saja meski lewat online sekalipun. 

Karena aku--tahu ketika ada orang itu cerita kalau sudah lulus Sekolah S3--aku gak anggap dia lagi pamer dan riya--tapi untuk memotivasi aku--biar belajar terus hingga ke jenjang Pendidikan yang tinggi karena dia liatnya aku mampu untuk itu 

Nah--aku juga cerita gini--karena aku juga yakin--siapapun mampu dan berhak sekolah ke jenjang yang lebih tinggi untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas.   

 

Bonus Chapter :  




Mengkhayal dulu lah sahabat--kalau kata Bapak Presiden Ir.  Soekarno--Bermimpi lah Setinggi Langit--jika engkau jatuh ,  engkau akan jatuh di antara bintang-bintang πŸ€

Kata orang bijak--bermimpi besar itu perlu banget--setidaknya kalau tidak tercapaipun--masih bisa bangga karena punya mimpi besar yang mulia

Dan jangan lupa dikasih tahu--mimpi-mimpi besarmu ke orang lain,  selain bisa dapat doa dari mereka--siapa tahu mereka juga bisa terinspirasi pengen punya mimpi besar seperti itu 

Kalau kata Kakakku--"Tulis aja dulu apa yang Kamu mau--karena kalau Allah berkehendak--gak ada yang gak mungkin di dunia ini"

Bonus Chapter 2 :



Jadi mimpi besar itu perlu banget--usahain selain besar juga mulia--karena aku pernah dengar cerita--seseorang yang ada niat bikin Kuburan Gratis--ternyata ketika Beliau meninggal--wajahnya bersih dan tersenyum manis. 

Masya Allah,  padahal cuma niat doang belum tercapai mimpi beliau, malah bisa di berikan kemuliaan sama Allah ketika Beliau meninggal πŸ€

Alhamdulillah hari ini Jumat berkah,  jangan lupa sedekah terbaik-nya ya!  

Karena Sedekah di hari Jumat --pahalanya seperti di bulan Ramadhan--jangan sampai di lewatkan--

meski hanya berbagi air minum kepada Kucing yang kehausan di Jalan 🐈

 Atau Memberi Sepotong Ayam Goreng Untuk Anjing JalananπŸ•

Comments