Tentang Pernikahan Dan Karakteristik Seseorang

 



Halo,  hari ini aku lagi bahagia. 


Karena Kotaku di guyur hujan yang deras,  kerjaan rutinitasku bersama segerombolan anak Kucing sudah selesai.  Dan hari ini,  hari Ulang Tahunku--alhamdulillah--Selamat Milad buat aku,  semoga selalu ceria dimanapun berada,  aamiin ya Rabb. 


Oia,  ngomong-ngomong soal Ulang Tahun--aku sudah bahagia--tahun lalu--gak ada yang nagih jodoh sama aku--ternyata tahun ini--begitu banyak bertubi-tubi--selalu doanya. "Moga jodohnya cepat datang ya! "


Aku denger --antara males dan bosen--kenapa sih doanya itu mulu--bukannya kalau jodoh itu sudah Allah tetapkan sebelum 50.000 tahun semesta ini diciptakan. 


"Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash) 


Nah,  kalau sudah begitu--kenapa musti galau sih? --aku sih mikirnya--kalau di ajarkan dosenku--dalam memecahkan masalah itu,  harus pake Pohon Masalah atau bisa memakai  pemikiran pemikiran brainstorming (mengambil ide-ide secara spontan untuk memecahkan masalah). 


Nah--kenapa sih dunia ini menagih jodoh padaku--kaya aku itu punya hutang banget sama mereka,  hadeh, hehehe. 


Ternyata--kalau aku petakan lewat pohon masalah dan pemikiran Brainstorming --itu karena budaya Indonesia yang selalu di suguhi cerita-cerita happy ending yang berarti sebuah Pernikahan--dari kisah sinetron,  FTV,  drama atau film romantis. 


Biasanya film-film romantis itu akan selalu dikenang oleh para Penonton Indonesia --sehingga terpatri--pengen juga seperti itu--


Ingat khan,  Film Fenomenal Habbie dan Ainun--dan kutipan manis Pak Habbie, 'Kamu itu Gula Jawa" sama Ibu Ainun yang kulitnya hitam tapi manis. 


Bahkan dibuat banyak sekuel-nya sampai 3 jilid--soalnya Penonton Indonesia itu suka banget sama Kisah Nyata,  Motivasi Keluarga dan Kisah Romantis Dua Anak Manusia menjadi Cinta Sejati. 


Seperti beberapa tulisanku yang lalu--memang topik soal Pernikahan dan Cinta itu adalah topik paling bisa menyedot minat pembelajaran teori untuk orang Dewasa. 


Aku ingat--dulu waktu ikut ujian Widyaswara di Lembaga Administrasi Negara--ketika aku mengajar--aku diprotes sama pengujinya dari Jakarta.  


Kata Pengujinya--"Kamu itu memang pernah jadi guru Jurnalistik untuk anak SD,  tapi Widyaswara itu artinya Dosen untuk para PNS--yang rata-rata mereka sudah dewasa--pengajaran yang kamu tunjukkan itu kurang tepat dan membosankan"


Aku dulu mikirnya--masa iya sih?  Pengajaran yang aku tunjukkan kepada para penguji ini membosankan,  padahal aku sudah berkerja keras menyampaikan materi --seakan-akan aku adalah dosen para PNS ( baca: Widyaswara) 


Tenyata. Beberapa tahun kemudian--ketika aku mengikuti Pendidikan Dan Pelatihan di Yogyakarta --dan di ajar oleh Seorang Widyaswara di Pusdiklat-nya,  waktu itu beliau mengajar Teori Standar Pelayanan Terpadu--suasana kelas--Sepi banget. 


Dan aku ingat --ada temanku dari Papua--Seorang Wanita--Sekretaris di Kominfo Papua--Beliau melihatkan ketidaksukaannya karena pelajarannya sangat membosankan dan bikin beliau ngantuk terus--ketika beliau protes ke Widyaswara tersebut --gak lama Widyasawara -nya mengubah bicaranya tentang Pernikahan dan Cinta. 


Wah--gak lama--ribut satu Semesta di Kelas--saling bersahutan--tertawa dan melek semua. 


Akhirnya aku menyadari dan keingat kata pengujiku dulu--bahwa Sistem Pengajaran untuk Orang Dewasa--itu berbeda dengan Sistem Pengajaran untuk Anak Kecil. 


Dan aku baru sadar--kalau soal Pernikahan dan Cinta itu bukan keahlianku--jadi aku mundur pelan-pelan saja, hehehe. 


Aku jadi keingat Cerpen lucu dan kocak milik Penulis Jonru --yang ada di buku Antologi Cerpen Untuk Tsunami Aceh--beliau menceritakan sebuah Kisah Seorang laki-laki yang selalu ditagih sama keluarga besarnya untuk menikah--sehingga keluarga besarnya kepo-nya minta ampun--kenapa sih dia ini gak menikah-menikah juga meski umurnya sudah tua. 


Sampai akhirnya--mereka mengambil buku harian atau diary-nya si tokoh utama di cerita tersebut--siapa tahu di diary-nya tersebut bisa diketahui--ada rahasia apa yang bikin dia belum mau menikah. 


Aku bacanya juga penasaran. Kenapa ya kira-kira--itu pikirku dulu. 


Ternyata pas tahu endingnya,  aku ngakak berkali-kali.  


Bukan tahu hasilnya bagaimana,  tapi ternyata--dikisahkan--dalam buku Diary-nya pun dia nulis bikin penasaran dan dia bilang : "dalam Diary inipun aku sulit bicarakan kenapa aku belum menikah.. '


Hehehe.  


Cerpen keren sih menurutku--karena endingnya gak mudah di tebak Pembaca dan bikin aku teringat terus dengan lucunya cerpen yang di buat Penulis Jonru. 


Nah--kalau keingat soal Pernikahan--kadang beberapa waktu lalu ada orang yang gak kenal kita--tiba-tiba menawarkan saudaranya untuk bisa menjadi jodohku.  


Tak lama--dia bingung--"Loh,  kok malah suka ngomong sendiri. Wah gawat ini" ketika Ia melihat aku sedang mengomentari kendaraan yang lalu lalang dijalan--kebetulan waktu itu--aku sedang menunggu kendaraanku yang sedang di cuci sama pencucian motor. 


Aku antara aneh dan mau ketawa. 


Yang gawat itu,  ya Dia--masa iya--datang tiba-tiba--cuma melihat penampilan fisik doang--yakin mau di jodohkan dengan Saudaranya. Hadeh.  Hehehe. 


Trus gak lama--malah aneh sama sifatku--yang suka bicara sendiri ketika melihat sesuatu. 


Padahal menurut Psikologi,  bicara sendiri itu bisa bikin otak lebih cerdas--dan salah satu tanda orang Jenius serta jaminan bisa sukses hidupnya.


Terbukti dari kisahku--dulu waktu aku di Rantau--suka kangen sama Almarhum Abahku--jadi kadang aku memusut tanganku sendiri--dan seakan-akan ada Almarhum Abahku di sampingku--dan menyakinkan diri,  "yang sabar ya nak,  ayo tidur--besok bahagia lagi". 


Alhamdulillah,  itu rahasiaku sukses untuk selalu semangat dan gak boleh putus asa.


Aku kalau keingat putus asa,  jadi keingat sama Pimpinan Kantorku sekarang--kata Kakakku--beliau itu galak--jangan di dekati--nanti kamu dimarahi--tapi ternyata beliau itu orang yang baik hatinya--soalnya beliau mengkhawatirkanku--katanya-- beliau takut kalau aku bunuh diri--


Soalnya aku suka menyendiri,  wajah cemberut terus--padahal aku cemberut itu memikirkan--apa lagi ya--ide menulisku hari ini--bikin apa lagi ya di postingan blogku lagi atau gimana ya biar banyak pengunjung yang datang di blog-blogku.  Hehehe. 


Atau kalau aku menyendiri itu berarti lagi mau punya privasi--untuk bisa muhasabah diri biar banyak dapat ide-ide menulis--karena aku pengen bisa menulis di blog 10 postingan sampai 30 postingan perhari,  hehehe. 


Masya Allah,  berarti itu tandanya--masih banyak orang baik di dunia ini. 


Sampai Begitu perhatian,  memikirkan siapa jodohku,  atau memikirkan kenapa aku begini dan begitu, hehehe. 


Karena yang namanya menikah itu bukan acara perlombaan cepat-cepatan tetapi soal kesiapan. 


Dan soal karakteristik sifat seseorang,  itu adalah Pembeda Alami-nya dengan orang lain,  mirip seperti sidik jari--mana ada di dunia ini--sidik jari yang sama. 


Jadi Doakan saja lah yang terbaik buat aku,  karena aku yakin --rencana Allah itu adalah rencana terbaik untukku.  Dan jangan lupa selalu doakan aku--bisa selalu menulis meski dari otak yang tidak seberapa ini. 


Semoga bisa menginspirasi teman-teman ya,  salam buat orang-orang terdekat kalian--semoga selalu bahagia dimanapun berada. 


Tenggarong,  28 November 2020


Sahabat Sehidup Sesurgamu


Rohana Permata Sari


Keterangan Photo : Ini photo kenangan manis bersama keluargaku,  kalau diceritain panjang lebar dan aku bikinin novelnya--keluargaku ini adalah Keluarga Pisang. Karena suka banget nanam pisang,  makan pisang--bahkan aku dulu sewaktu kecil di bilang anak monyet karena suka banget sama Pisang, 

hehehe 🍀


 Sumber Tulisan : 

1Berbicara Sendiri Itu Tanda Orang Sukses

2. Pentingnya Brainstorming Agar Kegiatan Tidak Sia-Sia

3. Takdir Dari Allah-- Sudah Ada 50.000 Tahun Sebelum Allah Menciptakan Semesta


Comments