Sinar Mentari Luxemburg

 


 

“Jika Kali Ini Aku tak dapat mencintaimu, Biarkanku terbenam di hatimu….”

 

Intelegen Panca Vega menuruni sebuah Limousine warna perak muda didepan Istana Perione, Luxemburg—Eropa Barat. Rencananya sampai sepekan kedepan mereka akan bermalam di negara bekas jajahan Perancis dan Jerman tersebut. Kebetulan ada undangan khusus Pangeran muda, Danewellis Sullivan—Rekan Diplomatis Negara Asia Tenggara dengan Negara Luxemburg yang sebentar lagi akan dinobatkan sebagai Raja muda Perione, Luxemburg.

” Bosan, masa seharian ini aku harus pake gaun, masih enakkan pakai gamis juga” Terlihat dari belakang sesosok gadis berjilbab biru menyeret gaun putih, sambil menenteng Ransel hitam miliknya. Dia berbicara dengan Kapten Panca Vega, Zaska Aurelia--Sang Analisis eksukutor penembak Jitu diantara agen-agen Indonesia

”Tahan saja” ucap Zaska ini, terus melangkah kepelataran istana.

”Sudahlah, Rel. Sekali-kali jadi cewek” Sahut Adam Ismail, ahli Investigasi Pancavega. Fiarel malah tambah cemberut. Dia diam, sambil merenggut.Gadis berjilbab biru tadi merupakan ahli Forensik terkenal di Asia tenggara pada kalangan Intelegen.

”Oh iya, Za—kenapa Dane tidak menjamu kita?—calon istri jauh-jauh datang tidak dihargai, hehehe” Lanjut Adam yang mengira Kakak kandungnya, Zaska akan tertawa. Tapi malahan ia mendapat gertakan dari mata tajam Zaska. Adam langsung memamerkan gigi putihnya.

xxx

Tak kurang dari 10 menit. Agen Pancavega, Intelegen kepercayaan Asia Tenggara, dibawah Kapten Zaska, merupakan agen-agen terpilih ini diundang dalam peresmian penobatan Raja Luxsemburg, sahabat karib mereka saat sama-sama mengikuti Kuliah intelegen di London beberapa tahun yang lalu. Merekasudah digiring oleh perempuan muda kesebuah ruangan yang luas. Mereka duduk rapi di ruang tamu dengan arsitektur Perancis klasik.

Perempuan muda tadi kini turun dengan seorang wanita separuh baya.Namun guratan diwajahnya tidak membuat kecantikannya luntur. Sepertinya ia adalah Ratu Luxemburg, Laura Lafarguewellis—Ibunda Dane.

”Selamat datang, Panca Vega—saya senang sekali mendengar kalian akan datang kemari” Sang Ratu tersenyum ramah, membungkukkan sedikit badannya dan mengangkat gaun kawatnya perlahan, tanda hormat. Tak diduga, Ratu itu berbicara dengan bahasa campuran. France dan Inggris

”Terima kasih, my Queen” Zaska dan teman-temannya langsung berdiri. Melakukan yang sama dengan apa yang dilakukan seorang tamu kepada pemilik rumah dengan tanda menghormati, merekapun membungkuk.

***

Pembicaraan langsung terasa longgar. Kudapan manispun tersedia, menemani sore yang dingin dalam istana Perione. Sampai suatu kejadian yang menghentakkan mereka di ruang tamu. Asal suara terdengar dari serambi depan, setelah hantaman pintu mobil yang ditutup secara tiba-tiba. Muncullah sosok laki-laki berteriak marah-marah.

”Sampai mati, aku tak akan rela menyerahkan Mahkota itu padamu—Kalau pun kau yang mendapatkannya, jaminan aku yang akan merebutnya darimu dengan paksa”

”Edgar, apa maksudmu?, bukannya kita sudah bicarakan ini, Edgar...” Sosok Danewellis terdiam— terpaku perlahan, saat melihat tamu-tamu yang ada diruang tamu. Edgar, pria yang dipanggilnya itu langsung saja berjalan menaiki tangga. Tanpa memberi salam kepada baginda ataupun sekedar menyapa tamu yang ada bersama mereka. Dane yang menyadarinya, langsung membungkukkan badannya.

My queen, Intel Panca Vega (Dane menoleh kearah Zaska) You are Beautiful my Lady (Dane tersenyum manis), Permisisaya keatas sebentar, mari Panca Vega silahkan menikmati jamuan ini, saya ada urusan sebentar diatas,” Katanya menundukan kepala lagi, sebelum itu dia bahagia. Gadis yang disayanginya, telah datang diacara khususnya. 

 Besok, saat penobatannya sebagai Raja Luxemburg, dia akan resmi melamar Zaska untuk yang kedua kali. Tak apa jikalau ia menolaknya lagi. Dilain tempat— Zaska, tak bisa menutupi rasa malunya saat disapa my lady oleh Danewellis. 

Baginda serta teman-teman Panca Vega pun tersenyum, sedikit mencuri pandang memperhatikan Zaska yang salah tingkah—Zaska hanya berpikir akan email yang dulu Pangeran Muda itu pernah menulis, sebuah Proposal untuk melamar dirinya ia kirim pada surat elektronik itu, hingga Dane menjadi seorang Muslim. Zaska hanya tersenyum tipis, jika mengingat itu.

***

Tiba-tiba Endhara bercerita pelan,

” Edgar Marionette adalah abang saya. Dulu, sebelum pangeran muda Danewellis datang ke istana ini. Beliau yang membantu baginda Ratu dalam urusan kerajaan dan pemerintahan Luxsemburg. Namun, hal itu berubah sesaat setelah Pangeran Muda Danewellis menyelesaikan Kuliah Intelegen di London, Beliaulah yang berhak menjadi Raja Luxsemburg. Bukan Pangeran Edgar. Sehingga Pangeran Edgar mengganggap Baginda Ratu memanfaatkannya. Dan akhirnya terjadilah perselisihan itu ” Ujar Endhara sedikit muram. Yang mendengarnyapun menjadi hambar.

” Padahal saya tidak bermaksud begitu , saya ingin mereka berdamai, sangat ingin” Malam itu, dihadapan Pancavega—Baginda Perione menitikkan air matanya.

***

Seorang pelayan memberikan kumpulan kertas kepada Dane yang sedang menikmati secangkir teh Mesir, kesukaannya— didalam kamarnya saat malam tiba. Dane mengambilnya dengan pelan, kemudian mengucapkan terima kasih kepada pelayan tersebut. 

Setelah membungkukkan badannya, pelayan itupun pergi. Kemudian, dia memperhatikan tulisan dalam kertas tersebut, ialah jadwal yang tertera didalam daftar yang diberikan bagian Humas kerajaan kepadanya. Dia memilah-milah, dari jadwal yang ada. 

Untuk berkata pada dunia, bahwa dia ingin menikahi Zaska, Zaska Aurelia— Kapten Panca Vega yang menawan. Dane tersenyum, membayangkan bagaimana reaksinya nanti—my queen juga pasti senang mendengar kejutan bahagia ini—ucapnya sedikit terdengar.

***

Tak lama ada seseorang yang mengendap-ngendap memasuki kamar Pangeran muda, Danewellis Sullivan. Sedang membawa tali kawat. Kemudian dia Membuka pintu kamar.

Tiba-tiba mengalungkan tali kawat itu di leher Dane tiba-tiba dan menariknya dengan kuat. Dane meronta kesakitan, dia berusaha melawan—namun usahanya gagal, dia hanya dibiarkan berbalik untuk mengetahui siapa yang menghabisinya malam itu.

”Ke..n..a..pa?!” katanya terbata-bata, mengambil napas sedikit demi sedikit. Suaranya tak terdengar. Tenggorokannyapun terasa seperti putus, tersedat—kelu.

Seseorang itu terkekeh-kekeh. Tangan sang Pangeran Muda tersudut didinding, mencari sekelar lampu. Perlahan-lahan, sambil terus bernapas. Walaupun udara yang masuk sedikit, dia mencoba terus berusaha dan dapat.

Lampupun padam. Orang yang tak dikenal itupun kaget. Dan karena kaget, dia melepaskan tali kawat itu pada leher Dane. Dane langsung terjatuh dibawah lantai.

” Sialan— sudah mau mati—masih mencoba usaha sia-sia ini, biadap kau, sama seperti ibumu!, dimana kau?”

Orang tersebut menabrak berbagai barang, kursi dan meja kecil yang ada didepannyapun terjatuh. Dia mencoba mencari sekelar listriknya. Dengan susah payah, diapun mendapatkannya. 

Ruangan kembali terang, namun sekelilingnya berantakan, kertas-kertas dimana-mana, kursi terjatuh, meja kecilpun terlempar jauh dekat jendela sang pangeran. Seseorang itu tersenyum puas, dia mendapati, Sang pangeran mati dengan tragis. 

Kehabisan nafas.

***

Endhara sudah berpakaian rapi, membawa Teh kental Arousa dari Mesir kesukaan Pangeran Muda. Pagi cerah itu membuat wajah gadis mungil itu bersinar indah, salju yang menyelimuti Istana Perione tidak membuatnya kedinginan.

Wajahnya cerah, mungkin karena acara siang nanti mengenai penobatan abang angkatnya. Namun saat memasuki ruangan Pangeran Muda yang tidak biasanya—tidak dikunci. 

Bukankah beliau kalau tidur selalu tak lupa mengunci kamar—pikirnya sesaat.

Dia tersentak, matanya tak berkedip, teh yang dibawanya langsung mendarat diatas lantai, dan Praang.....

”Tiddaaaakkkk!” Serunya histeris, dia terduduk lemas. Suara teriakannya, membuat anak-anak Panca Vega yang sedang berada di halaman langsung berlari mengejar asal suara tersebut.

Panca Vega terpaku saat melihat Danewellis terbujur kaku, dengan mulut berbusa, wajahnya pucat kebiru-biruan. Adam tergangga, Fiarel menutup matanya sambil bersandar pada pundak Zaska. Zaska tak berkata apa-apa, dia shock saat itu. Tak lama datang dari arah belakang Baginda Ratu berjalan perlahan diiringi para pelayan yang lain.

” Apa yang terjadi? Ada perampokan—Ya Tuhan, mengapa berantakan begini? ”

Panca Vega menyadarinya—pakaian-pakaian Dane keluar dengan berserakan dari lemari kacanya, tempat tidurnya yang seperti diobok-obok. Belum lagi kertas-kertas dan buku-buku Dane beredar disana-sini.

Yang Mulia berteriak dengan histeris. ” Dane! Bangun!, kumohon... ”dia menguncang-guncang tubuh Dane, diapun menangis tersedu-sedu. Zaska langsung melangkah, mengisyaratkan kepada para Pelayan kerajaan untuk membawa Baginda Ratu untuk beristirahat, menenangkan pikiran.

” Lady Dara, tolongbawa my queen” Kata Zaska pelan, dengan wajah yang muram, tapi tiba-tiba dia menyadari sesuatu.”Oh.. tunggu!. Ini bukan perampokan” Seru Zaska tiba-tiba.

”Apa?!!” Serentak anak-anak Panca Vega berucap. ”Maksudmu apa, Za?, Kalau bukan perampokan—apa ini...?” Adam mencoba menebak. Rasanya perutnya mual, memikirkan hal apa yang akan terjadi. ”Yup, ini pembunuhan” Kata-kata Zaska, membuat seluruh ruangan langsung merinding.

”Dan kami tak akan meninggalkan TKP, biarkan kami mencoba menyelidiki peristiwa ini. Dan serahkan kepada kami”

”Apa bisa polisi-polisi lemah ini memecahkan kasus ini” Sahut Edgar menyepelekan, Fiarel merenggut, melihat tidaksukaannya kepada Edgar. Jangan-jangan dia pembunuh Dane yang baik ini—pikir Fiarel dengan amarah.

Zaska hanya tersenyum melihat wajah menghina Pengeran Edgar, ia seakan optimis—Danewellis—Tunggu saja, aku janji akan aku bongkar identitas pelaku yang membunuhmu. 

Lihat saja, aku pertaruhkan demi nama baik Pancavega dan para agen-agen Asia tenggara, serta sebulir cinta yang kini tumbuh dalam hatiku—Ya Allah, Bantu kami untuk kali ini, benak Zaska sambil berdiri menatap tajam kearah teman-temannya yang masih bingung. Mata elangnya terguratkan kebencian yang mendalam.

***

”Okay, Polisi pengganggu, katanya kalian sudah tahu siapa pembunuhnya?, cepat katakan—jangan membuang waktu, aku sudah bosan” Edgar berjalan angkuh keruang tamu. Berucap nada tinggi, membuat Panca Vega kesal.

”Tenang saja, Pangeran Muda. Kami telah temukan jawabannya, bukan begitu Za?” Adam beralih pandang kearah Zaska. Kapten Panca Vega itu mengangguk , dan melihat sosok Endhara baru tiba dengan tergesa-gesa. ”Maaf, saya terlambat” Katanya lembut.

” dengarkan baik-baik, kami telah menginvestivasi segala ruang, barang bukti, penyelusuran forensik mayat, hingga petunjuk-petunuuk peta untuk menemukan pelakunya, Petunjuk petanya adalah Pertama, ucapan seseorang yang sebenarnya tidak perlu diucapkan. Kedua, televisi plasma dan komputer digital dalam kamar Dane yang tersimpan rapi. Ketiga, tali kawat yang ditemukan dibawah ranjang Dane. Keempat, Pesan rahasia pada tumpukan kertas tata tertib jadwal penobatan untuk hari ini” Lanjut Zaska lantang.

Adam menggangguk, Lalu ia jelaskan perlahan menambahi” Semua berantakan, kertas disana sini, kursi dan meja yang terletak tak beraturan, pakaian pun keluar dari lemari baju seakan-akan ada orang yang mencari sesuatu, dengan kata lain harta atau surat berharga. Kita sering menyebutnya dengan perampokan. Tapi itu salah besar. Kalau perampokan, kenapa komputer digital, serta televisi Plasma tidak diambil oleh perampok. Itu karena kesalahan pelaku yang membiarkan kita menggangap ini perampokan. Padahal, hanya perampok yang bodoh, yang tidak mengambil barang-barang mahal seperti ini”

”Jadi maksud anda ini pembunuhan?” Edgar tidak percaya. Ini pembunuhan berencana namanya. ” Kalau pembunuhan kenapa tadi bilang ini perampokan?, benar-benar plin-plan” Kata Edgar, membuat Zaska tertawa lirih.

”Betul, itu petunjuknya, Pangeran Edgar!. Kita semua tidak ada yang menyebutnya kalau kejadian sang Putra Mahkota meninggal mengenaskan itu adalah perampokan. Kecuali sang pelaku aslinya!”

”Hah?, Jadi...?!” Fiarel terkejut bukan kepalang.

”Iya, andalah pelakunya. Yang mengasatkan mata kami dengan menyebut ini adalah perampokan, membunuh Danewellis dengan cekikan sebuah tali kawat—yang satu-satunya di Istana ini memakai gaun dengan cetakan payung dengan kawat—jika tak salah, salah satu kawat tersebut telah anda potong untuk dipergunakan membunuh dan mencekiknya, saya yakin itu” sang ahli Investigasi Pancavega, Adam Ismail menunjuk seseorang, semua matapun mengikuti jari telunjuknya mengarah pada siapa.

”Yang Mulia, my queen.. anda tertangkap basah!” Mata Zaska mendelik kearah Ratu Luxsemburg, Laura Lafarguewellis. Sang Ratu tiba-tiba gugup, namun mencoba membela diri.

” A..pa?, jangan bercanda?!. Siapa pun bisa mengatakan hal itu. Saya hanya kebetulan saja berbicara seperti itu, saat melihat ruangan Dane berantakan mungkin saja ada perampokan, dan tali kawat itu apa hubungannya dengan saya, sekali lagi itu hanya kebetulan, saya mempunyai cetakan rok payung dengan tali kawat, karena sebagai Ratu Luxemburg sudah tradisi memakai gaun dengan tali kawat. Jadi pernyataan anda tadi, tidak masuk akal”

”Memang kebetulan, tapi ’kebetulan’ seperti itulah yang membuat kami tahu siapa pembunuhnya. Walaupun dari awal saya sedikit ragu, karena tak ada bukti konkret yang kuat, maka saya urungkan untuk mengambil kesimpulan. Tapi anda, sikap ”kebetulan” anda itulah yang mengganggap itu pancingan, malah kejanggalan itu menjadi senjata makan tuan” ucap Za Lantang.

”Oke, kalaupun memang saya pelakunya. Apa buktinya?, jangan buat nama baik saya tercemar?!” kata sang Ratu.

”Baik, jika my queen memaksa, saya akan beritahu. Petunjuk terakhir, kami temukan pesan rahasia pada tumpukan kertas tata tertib jadwal penobatan untuk hari ini” Ujar Zaska memperhatikan wajah baginda Ratu.

” Pesan rahasia?, saya pernah mendengarnya” Lady Dara ambil suara.

My queen, Hal terakhir yang kami temukan adalah pesan penting Rahasia dari Danewellis mengenai pelaku sebenarnya ada pada kertas-kertas ini. Anda memang menyadarinya saat membunuhnya, tapi entah disaat apa, Dane bisa menuliskan pesan kematian ini. Dia tidak menulis dipermukaan kertas itu siapa pelakunya. Karena tahu, anda pasti akan melenyapkannya. Maka dia menulis dibagian pinggirnya, lalu membuangnya secara tidak beraturan” 

Zaska mengumpulkan kertas-kertas yang tadi dikumpulkan Fiarel. Kemudian menyusun sesuai dengan halaman print out tulisan tersebut. Setelah selesai dia menunjukkan kearah Baginda Ratu—dari arah samping.

Akhirnya semuapun kaget. Disana tertulis MY QUEEN.

”Bagaimana, My queen?! sudah jelas bukan!”

”Sialan anak itu! Iya, aku memang membunuhnya. Mencekiknya. Tapi karena aku lalai, membiarkannya mematikan sekelar lampu. Aku panik dan menabrak semua barang. Saat lampu menyala, kudapati Dane telah mati. Namun aku terlupa, tali kawat itu entah terjatuh dimana—aku tambah panik dan membongkar semua barang yang ada disana. Tapi aku tak menemukannya dimana. Sehingga aku mulai berpikir untuk menyiapkan trik ini, trik perampokan berdarah” 

Baginda Ratu berbicara tidak seteratur yang dulu, tidak memakai bahasa Prancis ataupu britsh yang anggun itu— sungguh diluar dugaan. Ini lebih parah dari kata-kata Fiarel.

”Kenapa Yang Mulia?” Lady Dara menangis saat mengucapkan hal itu. Fiarel tergangga tak percaya.

”Kenapa?!. Huh...! pertanyaan yang sama dilontarkan anak malang itu saat dia mengetahui aku membunuhnya. Asal kalian tahu aku membunuhnya demi Edgar, anakku tersayang” Bukan main Edgar Kaget. Anaknya?—bukankah dia anak angkat.

My queen, Tuan Edgar anak angkatmu?” Zaska pun kaget, tak percaya.

” Bukan!, dia sungguh anakku. Dulu, Raja Luxemburg mempunyai dua istri, aku istrinya yang pertama sedangkan ibunya Dane adalah istri muda sang Raja. Raja menikah dengan orang lain, karena aku belum memberi anak. Raja menikahi Ibu Dane, Seorang Putri bangsawan Mesir. Kemudian Dane lahir. Maka perhatianpun seluruh kerajaan tertuju pada Dane, bayi mungil yang merusak kehidupanku. Namun, ternyata Tuhan masih baik padaku, saat Dane berusia 3 tahun. Aku melahirkan Edgar. Bersamaan itu pula, ibu Dane sakit-sakitan hingga meninggal. Aku gembira. Raja bersedih, dan meluangkan rasa sedihnya kepadaku. Beliau perhatian padaku. Sungguh— aku bahagia pada saat itu. Namun, tiba-tiba Raja berkata, untuk memintaku menjaga Danewellis dan menjadikannya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Luxemburg berikutnya. Dia tidak pantas!, aku merasa Edgarlah yang pantas menjadi raja. Karena dia anak dari istri pertama Raja Luxemburg. Namun, seluruh anggota kerajaan kepalang sayang pada Dane, dan menuruti perkataan Raja. baik, aku mengalah saat itu. Ketika Raja meninggal, aku meminta kepada kepala Pelayan kerajaan pada saat itu merahasiakan identitas Dane dan Edgar. Dengan syarat, anak dari salah satu Pelayandijadikan anak angkat kerajaan. Yah, dia adalah Lady Dara”

Endhara tersentak. Semuanyapun begitu. Kecuali salah satu Pelayan disana, karena dia adalah Ayah asli dari Lady Dara, Boneka cantik dari Luxemburg Perione.

”Sandiwara masa lalu itu, membuat aku merancang untuk melenyapkan Dane. Aku sengaja menyekolahkannya ke London, bagian Intelegen. Agar dia sibuk dengan misi-misi para agen yang membuatnya tidak berpikir untuk kembali ke negara kami hingga nantinya ia akan meninggalkan Luxemburg. Namun, nyatanya dia merusak semuanya. Itu bukan salahku, itu salahnya sendiri, kenapa harus seperti ibunya yang merampas kebahagiaanku. Dan tidakku biarkan dia merampas kebahagiaan anakku” Lanjut Yang Mulia Ratu.

Edgar diam terpaku, terus mendengarkan perkataan orang yang selama ini dibencinya adalah ternyata ibunya. Semua yang ada disana terdiam mematung.

”Anda salah, My queen. Danewellis tidak pernah merebut apapun dari anda. Dia sangat menyayangi anda, melebihi apapun, My Queen. Anda tahu saat kami berjalan di St James’s Park, salah satu taman bunga di London saat acara berlibur dari kegiatan intel— sambil memperhatikan danau yang berisi burung pelikan yang sedang berenang. Dia bercerita banyak tentang anda. Tahukah Anda kenapa saya selalu memanggil anda dengan ”My Queen”?”

Yang Mulia tak berkata apa-apa, matanya terlihat kaget. Dan berkaca-kaca.

” Itu karena Danewellis suka akan panggilan itu. Katanya itu adalah panggilan sayang buat anda. Karena anda bukan saja Ratu Luxemburg yang membentangkan sayap cinta dari Lembah Anggur putih moselle sampai barat daya perbukitan Luxemburg penuh bunga levender dan mawar-mawar manis, seperti air dalam danau itu yang menaungi burung pelikan berenang— tetapi bagi Dane anda lebih dari itu, Anda segala-galanya, Anda bukan saja seperti langit yang menjadi atap manusia untuk hidup atau seperti air di danau yang menjadi sarana burung pelikan untuk minum. Anda Ratu dihati Dane. Ibunda Danewellis yang paling ia cintai. Yang membentang cinta, langit, serta matahari yang sangat dalam dihatinya”

Zaska tak bisa berkata apa-apa lagi. Endhara sesungukan, tak bisa menahan tangis. Fiarel saja berkali-kali menghapus air matanya di helaian Jilbabnya. Adam dari balik kaca mata hitamnya menyapu air matanya, walau malu—mereka tak peduli. Suasana begini, hanya orang gila yang tidak menangis. 

Edgar yang kasarpun, tak kuasa membendung air mata. Baginda Ratu shock, mematung. Matanya memancarkan kekosongan penyesalan. Kini air matanya asli, bukan palsu yang hanya menipu orang-orang kalau dia sedang bersedih. 

Bagaikan film yang terputar kembali, masa kecil Dane terekam di ingatan Yang Mulia.

My queen... my queen.. Dane sayang sama my queen” Suara Dane kecil menghiasi telinga Yang Mulia. Ratu terduduk, tak bisa berbicara. 

 Dia merasa paling bodoh. Manusia paling bodoh. Orang yang paling berharga dan istimewa baginya, telah ia habisi dengan tangannya sendiri. 

Dia tidak menyadari. Hanya karena salah paham masa lalu. Bukankah Dane itu adalah anaknya juga, yang selalu mengeringkan bening air kedendaman dengan sinar matanya laksana matahari. Entah sekarang siapa yang harus disalahkan. Matahari yang selalu menemaninya telah ia padamkan sebelum matahari tersebut terbenam.

***

Agen Pancavega hanya 3 hari bermalam di Istana Perione. Jamuan Pangeran Edgar, membuat sedikit melupakan kejadian sedih yang didapatkan beberapa hari ini. Baginda Ratu diasingkan di pulau Gutland—penjara bagi kaum kerajaan kasus kriminal. Raja Edgar pun walau telah mengakui Ratu adalah ibunya. Dia tetap adil, untuk membawa jalur hukum atas kejadian ini. Ratu pun tidak membantah. Dia sudah sangat menyesal.

”Lady Zaska, maafkan saya saya lupa memberikan surat Pangeran Dane kepada anda. Karena kejadian kemarin saya lupa hal sepenting ini” seru Endhara saat melihat Pancavega meninggalkan istana. Dia masih tetap imut, kini gaun kuning kemerah-merahan membaluti kulitnya yang putih.

Zaska yang sedari tadi murung, sedikit tersenyum. Diraihnya surat bersampul hijau muda itu dengan sedikit hati-hati. Dari Dane?—sejak kapan dia menjadi orang yang senang menulis surat, biasanya ia selalu mengirimiku dengan email-email—Orang itu, sampai matipun tak habis-habisnya mencoba membujukku—benaknya berbicara.

Ia ingat kata-kata Dane saat ia menolak lamaran Pangeran Muda itu, “Jika Kali Ini Aku tak dapat mencintaimu, Biarkanku terbenam di hatimu”.  

Zaska tersenyum hambar.

Dibukanya perlahan, wangi mawar menyengat mengusik hidung Zaska. Ini bau bunga kesukaannya. Dibacanya satu-persatu tulisan dari Dane. 

Rapi, terukir dari tangan yang lembut. Membuat dia tak kuasa menahan tangis, dan langsung memeluk Adam, adiknya yang sedari tadi ada disampingnya.

”Ada apa, Za?” Adam langsung mengambil surat hijau muda dari tangan Kakaknya. Matanya berbinar saat mengetahui isinya.

Dear Zaska, Aku sangat ingin mengantongi kesepianmu, Sangat ingin mencintaimu seperti hujan saat musim kemarau tiba, Gadisku sayang, hatiku rindu, Ijinkan aku mencintaimu, sekali ini saja.

Love

Danewellis Sullivan

”Buat apa harus minta ijin?!, bukankah kau matahariku, Dane—tanpa ijinku sekalipun kau selalu memancarkan cintamu” Zaska terisak dibahu adiknya. 

Gadis berjilbab tangguh itu tak kuasa menahan tangisnnya—Saat itu, dia merasakan rindu yang perih dalam hatinya. Mataharinya kini hilang, dan terbenam di Luxsemburg.

***

21 November 2010

*Terinspirasi buat Ibundaku Alm.Hj. Masitah , You are My sun in my heart always in my life. I Love you, ma....*

Cerpen 10 tahun yang Lalu, aku temukan di arsip kompasiana, ku edit sedikit, dan masih bisa di nikmati, bagi penyuka genre Detektif Dan Romantis.

Semoga suka, salam manis dari aku


Tenggarong, 06 November 2020


Sahabat Sehidup Sesurgamu

Rohana Permata Sari

Comments