Ruang Lingkup Masalah

 




Aku belajar dari Penulis Asma Nadia--ketika beliau menjawab pertanyaan peserta seminar kepenulisannya, beberapa waktu lalu di Tenggarong. 


Waktu itu, yang nanya--minta tolong berkas arsip Novelnya --di filmkan, karena menyangkut wilayah pedalaman Kalimantan. 


Aku kira--Beliau akan mengiyakan permintaan peserta seminar tersebut--tetapi beliau lebih memberikan cara pandang lagi, bahwa dalam mem-filmkan sebuah Novel--butuh sponsor besar--biasanya sponsor besar itu akan mau menerima Novel yang di filmkan--kalau Novelnya Best Seller. 


Dari situ, aku belajar. 


Bahwa, tidak semua permintaan orang lain--bisa kita kabulkan. 


Karena keterbatasan kita sebagai manusia. Dan yang aku ingat, kalau bikin karya tulis ilmiah--ruang lingkup masalahnya--harus dibatasi. Karena memperhatikan segi waktu, biaya dan tenaga. 


Dan itu. Bukan suatu alasan yang sia-sia. Karena itu memang logis dan masuk akal. 


Biar tema yang diangkat, tidak tumpang tindih. 


Mirip seperti yang dikatakan kakakku, "tolong. Ada kucing disana"


Pengen banget emang menolong kucing di mana aja. Tapi karena keterbatasan fisikku, yang tidak berada di dekatnya, aku pikir--aku Tidak bisa menolong kucing itu. 


Karena kata Dewi Hughes, sebelum menolong sesuatu--tolonglah diri sendiri dulu. Kalau kita tertolong, dan bahagia. Pasti bisa membahagiakan. Orang lain. 


Nah, tadi--keadaanku kurang baik--jadi tidak bisa membantu apa yang di maui oleh kakakku. 


Aku mohon maaf, karena ruang lingkup masalah itu memang harus dibatasi. 


Karena, belajar untuk bilang "tidak" pada sesuatu yang tidak bisa kita lakukan--itu lebih baik dan bisa bikin hati lega. 


Setidaknya, tolong diri sendiri dulu, untuk bahagia. 


Jadi, masalah apapun yang kamu ingin selesaikan--upayakan selalu ada ruang Lingkup masalahnya, biar kamu tidak bingung, dan lebih fokus untuk mengerti. 


Keterangan photo : lagi mau blender Pepaya untuk bikin sabun alami untuk kucing, eh di liatin serius--pengen tahu--siapa tahu bisa di makan--mungkin pikir mereka, hehe. 


Tenggarong, 13 November 2020


Sahabat Sehidup Sesurgamu 


Rohana  Permata Sari

Comments