Terkabulnya Doa Yang Tak Pernah Terucap






Aku sering banget dikabulin banyak doa-doa yang jarang aku ucapin sama Allah,  tapi suka aku pendam aja--karena saking kurang yakinnya aku akan terkabulnya doa-doa tersebut. 

Ternyata kita gak boleh banget,  merendahkan kemampuan Allah untuk mengabulkan apa yang kita anggap tidak mungkin. 

Akhirnya,  aku suka berdoa sama Allah tentang hal-hal yang aku inginkan meskipun secara logika akal manusia--gak mungkin. 

Banyak hal seperti bisanya aku pindah kerja di kampung halamanku, meski dulu sedetikpun gak berani ngomong sama Allah di doa-doaku,  karena dulu ada perjanjian harus mengabdi sekitar 20 tahun dulu baru boleh pindah. 

Karena aku mikirnya,  sepertinya gak mungkin. 

Tapi kalau Allah sudah berkehendak,  gak ada yang gak mungkin di dunia ini,  banyakin doa,  shalawat dan istigfar sama Allah--segala kesesusahan hidup akan dimudahkannya. 

Dan doa-doa lainnya yang secara logika,  gak mungkin banget--tapi Allah memberikan jalan hidupku terasa menyenangkan dan penuh hikmah.  Seperti dulu--waktu kecil sering jegukin Pamanku di rumah sakit jiwa--aku dulu mikir--kayanya gak ada obat untuk penyakit untuk orang yang memiliki gangguan mental,  ternyata aku bisa meneliti-nya sendiri meski gak harus izin sama pihak rumah sakit--karena kebetulan aku pernah jadi pasien rumah sakit jiwa karena gangguan tidurku hingga 3 hari gak tidur. 

Disana,  aku belajar untuk berbagi,  mengetahui empati teman-teman seasrama-ku,  belajar disiplin untuk mencintai diri sendiri seperti gak boleh banyak stress,  gak boleh begadang,  gak boleh telat makan,  dan selalu ontime diperiksa tekanan darah serta diberi obat vitamin biar makin sehat dan normal. 

Sebuah hadiah yang indah yang diberikan Allah sama hidupku,  dan aku selalu berterima kasih dengan masa itu--karena aku disana seakan liburan dan menikmati waktu sendiriku bersama alquran,  teman-teman yang tulus,  suster yang ramah dan dokter yang perhatian. 

Andai orang tuaku masih hidup --aku pasti aku pasti akan bercerita banyak tentang pengalaman indahku bermalam dirumah sakit jiwa--yang gak semenakutkan dibayangin oleh banyak orang. 

Karena disana,  aku jadi lebih memiliki rasa empati kepada pekerja medis,  dan teman-teman yang memiliki gangguan jiwa, mereka banyak memiliki rasa kasih sayang melebihi keluarga mereka sendiri. 

Karena kalau mengobati mental,  kita memang harus lemah lembut dan masuk kedalam dunia mereka yang mereka ciptakan sendiri. 

Sungguh kenangan yang luar biasa,  kalau abah dan mamaku tahu--wah mereka bisa bangga sama aku,  karena bisa meneliti sendiri bagaimana kehidupan di rumah sakit jiwa karena ingin tahu bagaimana dulu hidupnya pamanku yang selalu ceria disana,  hehehe. 

Padahal aku sama sekali gak pernah berdoa bisa meneliti kehidupan disana--tapi Allah berikan banyak keajaiban disetiap pilihan hidup untukku,  dan itu yang terkabul denga indah. 

Jadi,  kalian--jangan pernah meremehkan kemampuan Allah untuk mengabulkan semua inginmu,  meski hanya selintas saja,  kalau Allah mau--semesta akan mendukungmu sepenuhnya! 

Masya Allah,  indahnya ya! 

Salam Manis Dari Aku

Photo diatas adalah pengalaman umrohku yang kedua kali--dibayarin gratis--padahal tabunganpun aku gak punya,  hehehe.. 

Jadi kalau umroh--gak perlu pake duit--tapi pake Allah 🍀😉,  jangan lupa sebelum mati--kalian niatkan mau iseng atau serius--bisa ke makkah dan madinah,  jadi tamunya Allah di negeri terindah yang pernah aku datangin 🌸,  semoga yang baca tulisan ini--aku doain bisa kesana semua ya,  aamiin ya Rabb

Sahabat Sehidup Sesurga-mu

Tenggarong,  18 Oktober 2020

Rohana Permata Sari

Comments