Miskin Harta, Kaya Mental



                                        Belajar Dari Mereka Tentang Mental Yang Kaya


Aku sering ketemu dengan seseorang yang selalu bersepeda usang--dengan baju yang selalu sama, terlihat kumuh seperti jarang dicuci dan sepedanya penuh dengan plastik bekas.

akhirnya aku dekatin, dengan membawakan beliau sebungkus nasi dan sebotol air mineral.

saat aku berikan kepada beliau, beliau langsung menolaknya. dan beliau bilang : " saya bukan pengemis, jangan beri saya makanan dan minuman itu, berikan kepada yang membutuhkan saja"

serentak hatiku kaget.

Masya Allah. Luar biasa.

aku jadi belajar banyak dari beliau.

mentalnya sangat kaya.

bahkan bilang, bahwa beliau bukan seorang pengemis.

Dari beliau aku belajar--bahwa hidup bersyukur itu penting banget.

Baca Juga : Orang Bersyukur Itu Indah

meskipun kita dikelilingi banyak fasilitas untuk hidup, namun kalau kita jarang bersyukur--mental kita akan selalu miskin.

bahkan ada juga yang miris,

ketika aku bertemu dengan seseorang yang selalu memakai baju sederhana dengan sarung yang selalu membawa plastik-plastik sampah yang kotor, serta mencari sisa-sisa makanan di tempat sampah, aku suka kagum dengan beliau.

meskipun beliau seperti itu, beliau gak pernah menjadi pengemis atau meronta miskin kepada orang lain.

Baca Juga : Sedekah 1 Dirham

Tapi tidak dengan orang lain yang suka menghina jijik dengan beliau, bahkan takut enggan mendekat--memberi makanmu enggan--padahal memiliki kecukupan pangan.

Miris sekali dengan orang yang melihat Bapak ini dengan pandangan yang menjijikan. Karena bagiku--bapak ini memiliki mental yang kaya.

di banding orang tersebut, sudah akhlaknya seperti orang jahiliyah--mentalnya pun miskin.

dengan enggan memberi bantuan kepada orang miskin--bahkan menghinanya seperti hal yang kotor di dunia ini.

Padahal dia tidak tahu, pejabat yang berbaju bagus dan berkata elegant di kantor-kantor bisa lebih menjijikkan dari yang ia bayangkan. karena korupsi dan enggan memberi bantuan kepada rakyat-rakyat miskinnya.

ada juga , hal yang sampai sekarang gak pernah aku lupain.

 Kemarin dulu, aku ke Pasar--melihat seorang kakek-kakek tua yang suka duduk di pelataran Pasar, beliau tidak mengemis--beliau memang suka duduk dipalataran Pasar, dan suka mencari makanan-makanan sisa.

ternyata--beliau di bully sama preman pasar tersebut, nasi yang beliau makan, di tumpah ke kepala beliau. dan kepala beliau dipukul keras oleh preman tersebut.

aku yang ngeliat itu, langsung teriak. dan menghampiri preman tersebut, sambil marah-marah aku mendekatinya dan pengen langsung ambil kuda-kuda silat aja --jahat banget sama orang tua yang miskin dan tidak punya apa-apa.

Ternyata premannya--langsung ngambil motor dan kabur, menyebalkan sekali. 

Yang seperti ini--memang terlihat banget sebagai mental miskin. Merasa bossy di pasar, malah saat di gertak--karena menindas orang kecil--lari kabur.

Beda dengan kakek-kakek tersebut, meski miskin harta. Mentalnya kaya. Makan tidak dengan memeras orang lain bahkan makan dari makanan sisa. malah aku sering liat kakek-kakek tersebut tidur di jalan raya di dekat pasar, sama sekali tidak terganggu dengan kesibukan pasar.

Seperti seorang Kakek , yang miskin namun bisa bersedekah 70 bungkus nasi setiap hari jumat. Keren sekali mereka.

Kaya sekali mental beliau.

Baca Juga : Sedekah Hari Jumat





Hal-hal inilah yang mengajarkan diriku--bahwa hidup ini buka tentang Kaya harta. tetapi mental yang harus kaya.

Karena kebanyakan orang yang Miskin Harta lah yang mentalnya selalu kaya.

beda dengan kebanyakan manusia. harta banyak tapi selalu merasa miskin. Rumah segede gedong--masih pengen bensin subsidi. Punya Motor dan penghasilan bulanan 4 Jutaan--masih pengen beli LPG subsidi.

Jadi kamu yang mana?.

yang pasti, jangan mau jadi mental miskin ya Guys!

Malu sama mereka yang benar-benar miskin, tapi hatinya super kaya!
 

Baca Juga : Semua Untukku


 

Comments