Janji Yang Boleh Tidak Ditepati



Kemarin dulu, aku dapat pesan dari seseorang yang seharusnya gak perlu lagi menghubungiku. Karena memang sudah tidak layak lagi saling bersilahturahmi.

Sehingga aku berpikir-- kenapa dia mulai menghubungiku lagi. Padahal kami sudah tidak ada lagi urusan. Cara berpisahnya pun sudah aku akhiri dengan baik karena aku sudah merelakan dia untuk menikah dengan orang lain.

Makanya pas beliau menghubungiku lagi dengan pesan yang sama sekali gak ada hubungannya setelah 3 tahun gak ada kabar. 

Aku jadi berpikir. Mungkin sebelum kami berpisah. Dia pernah bilang-- pernah berjanji padaku suatu hari nanti akan menghubungiku. Dan akan bicara denganku.

Padahal hal tersebut-- tidak perlu dia lakukan. Karena tidak harus setiap janji itu ditepati kalau waktu dan kondisi tidak memungkinkan. Serta ada dimana silahturahmi dilakukan lewat doa saja-- tanpa harus berhubungan lagi.

Mengingat beliau sudah menikah juga dan aku juga sudah gak merasa dia mempunyai hutang denganku. Karena aku sudah mengikhlaskannya.

Mungkin kemarin dia berucap begitu karena memang ada rencana ingin menghubungi--namun karena banyak hal dan lain hal--Allah lebih memilihkan kita untuk tidak saling berhubungan.

Meski aku selalu mendoakan beliau dan istrinya--agar selalu hidup bahagia, karena mereka adalah salah satu temanku yang dulu pernah membantuku saat sendirian merantau di pedalaman Kalimantan.

Aku juga sudah melihat--mereka juga sudah bahagia. Jadi aku lega. Aku merasa--doaku dulu di malam bulan ramadhan itu dikabulkan Allah. Alhamdulillah.

Nah--yang aku sayangkan. Beliau mengirimiku pesan yang seharusnya tidak beliau kirim ke aku. Karena hubungan kami yang memang kurang baik lagi kalau disambung secara silahturahmi.

Karena aku gak enak sama istrinya. Istrinya itu wanita yang aku respek padanya. Wanita yang baik--yang gak boleh banget disakiti hanya karena aku membalas pesannya.

Alhamdulillah. Aku tidak akan pernah membalas pesannya. Karena komitmenku--masa lalu sudah berakhir. Dan gak ada masa depan kalau pun aku membalas pesannya.

Aku benar-benar menghargai istrinya.

Jadi dari cerita ini, aku simpulkan bahwa-- gak semua janji harus ditepati. Apalagi jika memang sudah putus hubungan dan tidak ada lagi contact saling membutuhkan. 

Karena suami yang baik itu dapat menghindari hal-hal yang dapat merusak rumah tangganya. Dengan dia menghubungiku lagi. Dengan alasan apapun keingat janji yang dulu.

Aku harap jangan diulangi lagi. Karena janji itu sudah hangus. Dan gak usah dibahas lagi. Karena memang sudah tidak ada lagi hubungan. Demi keutuhan rumah tangga diri sendiri dan orang lain.

Kasus kedua, yaitu kejadian setahunan ini. Aku bersahabat dengan teman baikku yang baru aku temukan lagi setelah kami lama tidak bertemu.

Ternyata beliau punya penyakit yang serius dan dia tidak mau memberitahukannya kepada keluarganya karena gak mau merepotkan ibu-nya. Dia sayang banget sama ibunya.

Aku tahu dia punya sakit serius karena dia gak tega liat aku nangis--pas dia cerita, suka ngerokok ketika dokter memvonisnya dengan penyakit serius itu.

Dia memintaku untuk berjanji gak boleh ceritain ini ke siapa-siapa. Karena baginya itu aib-nya.

Aku berjanji gak akan cerita ke siapa-siapa. sampai aku suka nangis sendiri sendirian dikamar setelah tahu kisah dia dan penyakitnya.

Keluargaku sungguh khawatir. Mereka mendesakku. Mengapa aku terus menangis. Bukannya permasalahan di pedalaman dulu sudah selesai. Kenapa sekarang nangis lagi.

Aku sekuat tenaga menutupi itu semua. Tapi ini keluarga dekatku. Mereka paling gak suka aku punya rahasia dengan mereka.

Saat aku sakit psikis--karena mikirin temanku itu--aku dibawa ke rumah sakit--disuruh curhat sama psikiater. Dan disanalah aku bercerita. Bahwa aku mencintai seseorang yang memiliki penyakit serius--tetapi dia tidak mau ditolong. dan memintaku menjauhi hidupnya. Ketika aku sudah menemukannya.

Ternyata--beberapa bulan kemudian--aku dipertemukannya dengan sahabatku itu--kakakku sudah ikhlas--mereka sudah mau menyetujui rasa sukaku dengannya.

Kami mau dinikahkan. Tapi karena dia terlihat tidak serius. Bahkan ketika aku ajak berkompromi untuk mencari jalan keluar--dia merasa tersingung.

Karena rahasia penyakitnya itu--sudah diketahui oleh keluargaku.

Aku bilang--aku tidak membuka aibnya. Bagiku penyakitnya bukanlah Aib. Bagiku penyakitnya itu Anugerah. Karena itu yang bikin aku selalu mencintainya. Karena dia orang yang tulus hingga gak mau keluarganya tahu dia sakit.

Tapi dia gak percaya. Dia yakin. Keluargaku akan bicarakan penyakitnya itu ke ibunya dan akhirnya dia bilang gini : "aku gak ridho sama kamu nha-- di dunia dan di akhirat sampai ibuku tahu kalau aku punya penyakit serius ini "

Pas baca pesan itu. Aku terdiam lama. Cukup kecewa. Lama air mataku mengering, untuk lebih menerima apa yang sudah aku baca barusan.

Akhirnya dengan lapang dada, aku terima ini semua. 

Meski dulu--banyak banget impian-impianku yang ingin kukabulkan dengannya.

Seperti akan memberikannya hadiah-hadiah setiap aku menemuimu atau pas dia ulang tahun serta

Seperti mau mengumrohkan dirinya dan selalu memeriksa keadaannya setiap bulan.

Tidak bisa kutepati lagi.

Karena aku menghargai perasaannya.

Aku gak pengen dia gak ridho denganku di dunia dan di akhirat.

Dan aku gak mau ibunya mengenalku lebih dalam. Karena aku bukan orang yang pandai menjaga rahasia.

Karena bagiku--penyakitnya itu bukan aib. Ya. sama sekali bukan. Meski begitu--dia lebih percaya dengan dirinya dan kata kata orang lain--bahwa penyakitnya itu adalah aibnya.

Iya. Aku menyerah.

Aku menyerah untuk menyakinkannya lagi.

Karena aku berpikir-- janji-janjiku dulu itu gak harus aku tepati lagi. Karena memang gak layak lagi untuk ditepati.

Karena kondisi dan situasi yang gak memungkinkan.

Aku ingin bersahabat baik dengannya meski dia menolak diriku. Tapi karena dia sudah berkata seperti itu.

Bersahabat pun sepertinya tidak bisa.

Aku hanya bisa mendoakannya agar selalu sehat dan bisa umroh. Meski bukan dariku.

Karena kalau aku mengumrohkannya makin dekat nanti hubungan kami. 

Bahkan orangtuanya akan bertanya-tanya. Siapa yang mengumrohkannya. Jadi aku putuskan. Dibanding--orang tua nya tahu.

Lebih baik aku hangus khan saja janji itu.

Mohon maaf my cherryblossom. Ini yang terbaik karena janji itu dulu aku katakan disaat kita berhubungan baik. Bukan seperti sekarang.

Hanya doa yang bisa aku lantunkan. Semoga kamu disana selalu bahagia dan sehat selalu dan dipermudah Allah untuk mau berumroh. Aamiin ya Rabb.


Kasus Ketiga, Ada juga janji mantan pacarku dulu--bahwa dia berjanji akan jagain aku, dan selalu melindungi serta nemenin aku kemana aja buat aku bisa bahagia.

Tapi karena ada ketidakcocokan aku dan dia. Kami harus berpisah. Berpisahnya juga awalnya sepihak. Karena aku kurang sreg sama laki-laki yang tidak bisa menghormati keluarga besarku.

Jadi meskipun dulu dia berkali-kali mengerjarku pakai motor, berjaga-jaga di depan rumahku, agar aku bisa menemuinya.

Bahkan sampai aku pindah rumah--karena memang ingin menjauhinya. Tapi akhirnya dia bisa menemukanku. Meski aku ketakutan diganggunya lagi. Aku lari ke rumah sahabatku. Minta tolong agar mengusir mantan pacarku itu.

Karena rumahku kosong--seluruh keluargaku nginap di rumah sakit--karena mamaku masuk rumah sakit hampir setahunan. Jadi kami tinggal di rumah sakit.

Alhamdulillahnya. Sahabatku itu mau membantuku. Dan membuat mantan pacarku pergi. Meskipun dia datang dengan mengucapkan maaf berkali-kali.

Aku tetap tidak mau menemuinya. Dan aku bilang aku sudah memaafkannya dan aku minta dia jangan pernah menemuiku lagi. Karena aku merasa terganggu akan kehadirannya.

Jadi dia turuti--sampai saat ini, kami tidak pernah bertemu lagi. Dan semoga jangan bertemu lagi.

Janji yang dulu ia ucapkan--untuk selalu menjaga dan melindungi serta menemaniku sebenarnya sudah dia tepati. Dengan tidak menganggu hidupku lagi.

Bahkan janjinya itu aku anggap sebagai kebaikannya yang akan dibalaskan Allah dengan surga yang indah.

Karena menurutku janjinya itu bukan yang harus ditepati. Karena aku nyamannya, dia memang harus menjauh dari hidupku. Agar kami tidak saling menyakiti satu sama lain. Sehingga kehidupan kami bisa bahagia.

Jadi bisa aku simpulkan dari cerita-cerita diatas bahwa, ada janji yang gak harus kita tepati karena lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya.

1. Ketika kita sudah putus hubungan
2. Ketika kita tak baik untuk bersama

Jadi dua hal ini-- jika terjadi didalam hidupmu dan ada yang berjanji atau kamu yang berjanji.

Janji tersebut bisa tidak harus ditepati. Karena lebih banyak masalah yang bisa timbul kalau kita menepati janji tersebut dibanding manfaatnya untuk diri kita dan orang lain.

Teruskan mendoakan orang-orang yang pernah menzalimi kita dan pernah kita zalimi.

Insya Allah--doa yang baik akan selalu kembali baik pula kepada kita. 

Comments