Cherryblossom (Bagian 3-end)





Kamu dan Bipolarku

Aku terbangun di sebuah ranjang khusus pasien rumah sakit jiwa.

Berwarna abu-abu dan dihiasi dengan seprei berwarna merah muda yang bertuliskan rumah sakit jiwa.

Aku mendengar suaranya.

Ka Tatan sedang mengaji di masjid dekat kamar perawatanku.

Aku ingat kenapa aku berada disini.

Kemarin, aku ke tempatmu bersama seluruh kakak perempuanku

Mereka sengaja membawaku ke warung nasi campurmu; hanya untuk bertemu denganmu

Mereka ingin agar aku bisa secepatnya menikah denganmu. 

Karena akhir-akhir ini aku suka menangis dan tertawa di muka umum.

Aku juga bingung. Kenapa kalau aku menangis mengingat kenangan dan tertawa mengingat hal lucu di hadapan orang banyak, semua tentang dirimu.

Mungkin keluargaku--bingung saja melihat perubahan yang banyak dari sifatku.

Dulu seakan menutup diri dan suka sedih kalau ditanya tentang masa lalu yang membuat aku berkali-kali masuk rumah sakit jiwa.

Namun , setelah setahun ini aku mengenalmu , suka mencari kebahagiaan hanya dengan melihatmu tersenyum dan memastikan kamu sehat.

Aku benar-benar bahagia.

Mengenalmu-- membuat aku paham. Hidup itu bukan sebatas cinta manusia saja. Tetapi betapa indahnya ketika Tuhan memberi cinta nya yang tanpa batas kepada hamba-Hambanya.

Aku ingat--saat aku pernah nongkrong di warungmu hanya bertanya tentang bagusnya hidup ini seperti apa.

Kamu menjawabnya sambil tersenyum khas mu. 

"Semua karena akhlak, Nha.. Manusia itu bisa bernilai ketika ia memiliki akhlak" ucapmu sambil menggoreng lauk buat warungmu.

Dia yang sekarang memang beda dengan dia yang pernah ku kenal 8 tahun yang lalu.

Lebih adem , wajah yang selalu menunduk ketika aku menatapnya dengan lekat

Saat aku perhatiin--bacaannya adalah Alquran. Di sisi ia menggoreng, aku menemukan Alquran kecil miliknya.

Namun dia masih tetap sama. Soal keindahan akhlak.

Dia selalu bisa membantuku saat aku kesusahan dan kesulitan.

Berapa kali ban-ku bocor , kunciku tertinggal atau minta temanin makan saat gak ada teman ngobrol dan rasa sepiku dirumah.

Untung. Aku bertemu dengannya. Dia tidak banyak berubah. Masih selalu sama. Tulus dalam berbicara, jujur dalam membantu. 

Kini dengan versi yang lebih wise. 

Lebih mengademkan hati dan dapat memotivasi diriku sendiri setiap aku berdiskusi dengannya.

Ka Tatan, aku berhutang nyawa denganmu

Apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikan hatimu ka--aku pernah menulis kalimat ini dan mengirimkan text ke dia.

Dan dia membalas. 

"Hanya doa yang aku mau, Nha"

Air mataku mengalir deras.

Ini manusia. Terbuat dari apa sih. Baik banget. 

Hingga kali ini--ketika seluruh keluargaku menyangka akibat aku suka menangis sendiri dan tertawa sendiri itu karena kamu--karena yang suka aku bicarain selama setahun ini--ya dirimu.

Penyakit seriusmu itu. Menghantam naluriku.

Aku yang divonis dokter, depresi mental atau sering disebut dengan gangguan bipolar. Cukup membuatku stress dan bikin aku mengurung diri dan menghilang dari dunia

Sedangkan kamu. Penyakit serius itu bahkan tak mampu membuat senyummu hilang ketika menyapaku dan menjamuku setiap aku mencari inspirasi tawaku.

Kamu bilang--penyakit mu itu adalah hadiah Tuhan untukmu. 

Stadium 2 , badanmu mengurus. Wajahmu menirus.

Aku menangis sedikit demi sedikit. Ketika berada di belakang pungungmu. Ini sahabat kesayangan ku. Maafkan aku tidak bisa menjagamu dengan baik selama 8 tahun ini, Ka Tatan.

Dan ini tentang kamu yang masig tersenyum ketika seluruh keluargaku memintamu melamar diriku

"Boleh ka--aku tak punya syarat apapun untuk menjadi istriku " dia selalu sibuk ketika berkata ini. Sibuk memasak untuk warungnya.

"Kamu menyukai nana , khan Tan? " ucap kakak keduaku, Rosalia.

"Suka" ucap dia menatapku sebentar lalu tersenyum kepada kakakku.

"Kalau begitu--kami tunggu kamu dirumah ya" Elisa--kakak pertamaku menambahi.

Kakak Tatan melihatku lekat. Dia kaget melihat wajahku. Hari ini adalah hari yang bersejarah.

Aku melepas cadar-ku. Dan berpakaian semodis mungkin. Ini sebenarnya bukan karena Kakak Tatan. Ini karena keluargaku bilang--aku pakai cadar hanya sebagai topeng saja--menutupi wajah sedih maupun bahagiaku.

Akhirnya hari itu. Aku buka cadarku. Pakai jilbab segi empat dengan bros yang lucu di jilbabku--dan menjadi diriku semasa kuliah dulu.

Kakak Tatan masih menatapku. Dia mungkin berpikir. Banyak perubahan yang aku lakukan untuk bertemu dengannya. Termasuk memakai topi yang manis saat itu.

Padahal aku tidak menyiapkan itu untuk kakak Tatan. 

Aku berpakaian seperti itu hanya ingin membahagiakan diriku dengan membuktikan kepada keluargaku--tanpa aku memakai cadar--aku masih bisa menunjukkan kreatifitas dan senyum ceriaku.

Bukan karena mereka jahat padaku. Keluargaku hanya begitu khawatir dengan keadaanku. Setelah ditinggal menikah dengan Aldy--cinta di masa sekolahku--aku cenderung menutup diri. 

Laki-laki yang selalu dikenalkan untukku. Selalu aku tolak karena aku masih belum memikirkan menyukai seseorang lagi . karena menyukai seseorang itu cukup menguras energiku.

Seperti Aldy dulu. Aku menyukainya. Karena dia yang mendekatiku. Mencoba menjadi temanku. Karena aku termasuk anak yang pendiam. Memberiku banyak hadiah dan benda-benda love. 
Hingga aku benar-benar menyukainya. Dia bahkan tak tahu itu. Mungkin aku dianggapnya hanya sebagai teman yang harus di bikin ceria saja. Hehehe.

Kakak Tatan berbeda dengan Aldy.

Dia tak pernah memberiku barang-barang sebanyak Aldy.

Yang dia beri padaku itu bahkan lebih besar dari itu. Yaitu Kehidupan.

Motivasi , tawa yang murni, cerita yang detail dan kelogisan yang absurd yang aku temukan padanya.

Itu yang membuat selama setahun ini--aku terus memikirkannya.

Hingga membicarakannya kepada seluruh keluargaku.

Dan akhirnya mereka mengerjai diriku.

Disaat aku berubah. Tak memakai cadar, memakai jilbab segi empat dan topi khas bebros unik. Mereka mengantarkanku ke warung Ka Tatan.

Menyebalkan. Karena Ka Tatan setahuku suka dengan gadis berjilbab besar dan bercadar . Tapi aku suka. Karena mereka janji akan membantuku--mendekatkanku dengan Kakak Tatan dan mempermudah jalan rasa cintaku kepadanya. Dengan sebuah pernikahan biasa.

Tapi ternyata itu hanya di impianku saja.

Mereka benar-benar mengerjaiku.

"Boleh, bicara aja dulu sama mamak di rumah " kata kak Tatan dengan mantap. Aku gak percaya. Dia menerimaku. Aku kira dia membenciku. Soalnya suka keras kepala jika bersamaku.

Aku sudah bahagia. Aku akan bertemu Ibu-nya. Aku beberapa kali bertemu ibunya. Aku sayang sama beliau. Mengingatkanku pada almarhumah ibuku. Selalu ramah dan baik. Mirip Kakak Tatan.

"Kamu saja yang kerumah kami" ucap kakak Rosalia-ku lagi.

Kakak Tatan tersenyum tipis. Sepertinya dia kecewa dengan bahasa cetus kakak keduaku itu.

Dia tidak menjawab. Terus menggoreng makanan untuk warungnya.

Dan akhirnya aku berada di sini--kamar rawat inap rumah sakit jiwa.

Aku di bilang--harus menjauhi kakak Tatan. Kata keluargaku --dia tidak cocok denganku--tak mampu memperjuangkan aku sebagai calon istrinya.

Aku malas berdebat dengan kakak-kakak perempuanku. Mereka sudah banyak berjasa dalam hidupku.

Apalagi ketika Aldy menghamburkan memory rasa cintaku. Mereka sebagai pelita yang selalu bisa bikin aku sadar tidak merasa sendirian di kegelapan sebuah penghianatan.

Kakak-kakaku suka ngajak aku nonton , jalan-jalan dan makan. Mereka mencintaiku lebih dari diri mereka sendiri.
Mereka bisa melakukan segala hal hanya untuk kebahagiaanku.

Termasuk soal Kakak Tatan. Cheeryblossomku.

Aku tak akan pernah menyalahkan kakak Tatan dengan berbagai macam keadaan yang tidak dikabulkan olehnya.

Karena aku paham jika aku menjadi dirinya.

Bipolar ini salah satunya.

Aku duduk di sisi lantai kamar perawatan rumah sakit jiwa.

Aku punya harapan. Kakak Tatan bisa menjengukku. Tapi ternyata dia tak pernah datang.

Jadi aku selalu berimajinasi.Suara adzan atau suara orang mengaji di Masjid. Adalah suaranya.

Itu sudah menghiburku.

Dia tak ingin merepotkan ku. Kakak Tatan selalu begitu.

Bipolar ini adalah hadiah untukku. Seperti penyakit serius stadium 2 itu terhadapmu.

Tak perlu jenguk aku lagi. Dan aku tak akan bertemu kamu lagi.

Karena kamu sudah berada di tangan yang tepat. Keluargamu.

Aku tak ingin merepotkanmu , Malaikatku.

Terima Kasih atas kehidupan yang pernah kamu beri untukku.

Bipolar dan kamu. Sama-sama indah.

Ini happy ending yang aku mau.

Beautiful.

Aku selalu mencintaimu.

Nharura, Pasien Kamar Enggang Rumah Sakit Jiwa Atma Husada Samarinda. Sedang tersenyum melihat sosok yang ia pikir adalah Kakak Tatan. Ia berdiri di sisi pagar jendela.

"Kakak Tatan" Teriaknya Ceria.
Sosok kakak Tatan terlihat di depannya. Namun ia tak menoleh.

Nharura selalu ceria melihat punggung kurus berkharisma itu. Sosok yang selalu bisa bikin dia menyadari. Keajaiban itu ada.

Kini ia tak menangis lagi. Ia bahagia. Ia merasa cintanya kini telah ia temukan.

Cinta ikhlas.
Cinta yang selalu ia cari dari 15 tahun yang lalu. Ketika ia pertama kali. Berani menyukai seseorang.

Cinta ikhlas. Begitulah.

Itu nama buat kamu. Cherryblossomku.

Nharura tetap terkesima pada punggung sosok yang ia kenal itu.

Padahal ada kawan lelaki dari kamar perawatan isolasi seberang ruangan Enggang; yang sedang tersenyum kearahnya. Sambil menawari snack malkis Roma kepadanya.

Ia tak menghiraukannya. Ia masih menatap lekat sosok Kakak Tatan-nya yang semakin menjauh. Sambil melambaikan tangannya dengan ceria.


Comments