Cherryblossom (Bagian 2 )



Chapter 2

Sayap itu Bisa Terbang

"Kakak Tatan, jangan minum soda itu, gak baik buat kesehatanmu" ucapku sambil melotot kearah orang paling keras kepala yang pernah aku hadapi

Dia hanya tertawa.

Tak dihiraukannya aku bicara. Di ambilnya sekaleng soda cap bintang.

Kuikutinya dari belakang 

Pikiran ku kalut. Anak ini. Gak ada pernah mau negoisasi soal kesehatannya.

Dulu aku tak sadar aku tak merawatnya dengan baik.

Beda dengan sekarang.

Apalagi aku tahu dia punya penyakit serius yang gak bisa diliat sebelah mata.

Tawa ceria nya itu yang kadang meredam amarah anak singa seperti aku ini.

"Mas, ini minuman katanya nol alkohol khan? Tapi soda itu khan gak baik buat kesehatan khan mas" kataku langsung ngeloyor minuman yang dipegangnya dan langsung menanyai kasir indomaret yang melongo melihat tingkahku seakan mengintrogasinya.

Belum si mas-mas kasir menjawab.

Kakak Tatan malah tertawa lagi.

"Ini enak, nharura" ucapnya pendek sambil memanggil nama panjangku. Tawanya masih terdengar.

"Kamu ini!" aku marah. 

Sama sekali gak pernah memperhatikan kesehatannya. Itulah dirinya.

Aku tinggalkan dirinya. Lalu duduk di depan warung nasi campurnya.

Aku masih marah.

Dia datang sambil membawa minuman soda itu , dan masih bisa tersenyum kepada para pelanggannya.

"Ibu mau pesan apa?" katanya sambil mengambil piring untuk seorang ibu paruh baya yang ingin membeli nasi campur di warungnya.

Aku mendengus.

Ihhhh. Sama yang lain aja di dengar. Sama aku. Ngajak berantem terus.

Kalau tahu dia punya sakit serius kaya gini.
Dulu,aku ikat mati dianya. Biar gak lepas dari pandanganku.

Diperhatiin makannya, tidurnya.

Atau dulu itu--aku ajak aja dia nikah muda sama aku.

Gara-gara otak ini bego. Masih aja terfokus sama satu cowok. Yang dianya suka aja enggak. Haha.

Malah ada sahabat sebaik ini; aku gak perhatiin.

Setelah 8 tahun berpisah. Baru aku sadar siapa dia.

Malaikat yang bersayap. Dan Sayapnya bisa terbang. Sampai dasar hatiku.

Untungnya aku manusia biasa.

Semarahnya aku dengannya. Aku tetap tak bisa membencinya.







Comments