Cherryblossom (Bagian 1)




Chapter 1

Aku menemukannya

Ini tentang dia
Yang sudah banyak mengubah caraku berpikir tentang hidup.

Dia yang selalu penuh senyum , kejujuran bicara meski agak kasar. Iya. Mengingatkanku pada diriku.

Kasar , aneh tapi memukau.

Aku suka seseorang yang mirip seperti diriku.

Dan aku juga suka memuji diriku sendiri. Hehehe.

Karena kalau bukan kita yang menyayangi diri kita; siapa lagi.

Penyataan agak bego. Kalau kamu pengen minta di puji orang lain atas segala yang kamu perbuat

Sedangkan kamu sendiri , tidak mencintai dirimu.

Ini cerita dia. Cerita dimana aku menemukannya.

"Kamu ngerokok? " kataku agak kelu. Saat melihat sosok sahabat idolaku. Mengambil sebilah rokok.

Dia tersenyum tipis.

"Iya, sedikit saja " ucapmu sambil mengambil rokok yang disediakan di atas meja.

Hari itu adalah hari reuni kami kembali setelah hampir 8 tahun tidak pernah bertemu.

Aku mengira dia sudah menikah. Karena kabar terakhir yang kulihat di facebook nya dia bersama wanita-wanita cantik.

Dia sahabatku--aku menganggapnya sahabat bagiku--kalau dia baru tahu setelah aku panjang lebar bicara padanya baru dia paham. Dia sahabatku. Hehehe.

Aku suka memperhatikannya. Gaya bicaranya jujur, terkesan vulgar dan tingkahnya bikin aku selalu ingin tahu banyak ketika ia berbicara dihadapanku.

Mungkin dia gak sadar. Aku memperhatikannya.

Karena aku adalah sosok yang cuek, fokus pada satu misi yaitu jadi juara satu di universitas saat aku kuliah dulu.

Aku suka duduk paling depan dan dia suka duduk paling belakang.

Tapi kami berteman. Karena teman wanitaku adalah temannya.

Aku termasuk beda dengan dua teman dekat wanitaku.

Elina dan tasya.

Dua sahabat yang gokilnya gak ketulungan. Mereka sosok yang supel. Kalau becanda gak garing.

Tidak sepertiku. Selalu garing kalau becanda. Mereka selalu bilang aku adalah profesor garing. Hehehe

Aku gak terlalu suka berteman dengan kaum lelaki. Bukan karena aku membenci mereka.

Orang cuek seperti aku ini. Mudah banget jatuh cinta. Terakhir kali aku jatuh cinta dengan teman sekolahku--hampir belasan tahun masih memikirkannya. Hingga ia menikahpun. Kalau ketemu--pasti bakalan mati gaya.

Jadi aku lebih banyak menghindar dibanding bermain cinta.

Karena jatuh cintanya mudah; melupakannya yang sulit hahaha.

Kadang Tasya; sang ketua tingkat di kampusku yang juga sahabat dekatku suka nyeletuk , " nana.. Pasti gak jauh-jauh dari si Aldy anak STPDN itu, Move on napa say.."

Aku suak tersenyum kecut saja.
Kalau dia sudah menyendir seperti itu.

Makanya aku kurang suka berteman dengan kaum jenis lelaki. Hehe.

Tapi ini berbeda dengannya.

Dia itu selalu bisa mencuri perhatianku

Dia sahabatku yang kalau aku cuekin

Selalu supel, senyum ramah,  tertawa renyah

Dan ucapannya selalu bisa menghiburku dikala aku harus mencapai target dari keluargaku yaitu jadi juara satu di universitas negeri di Ibu Kota Kalimantan Timur ini.

Aku selalu ingat kata-katanya yang lucu
Dia sih gak pernah berbicara denganku

Tapi dia suka cerita dengan teman-temanku
Yang aku juga ada disana. Ceritanya itu yang bikin aku sampai sekarang suka kangen dengannya.

Hari itu ada ujian kampus, aku sudah selalu siap dengan nilai ujian yang sempurna. Targetku adalah A. Dan terbukti, aku mudah menjawabnya. Tak ada yang spesial. Tak ada kejutan.

Kecuali dia. Kata-katanya sehabis ujian semester. Yang bikin aku sumringah lama. Dia adalah manusia istimewa yang selalu aku anggap sahabatku. Meski bertahun-tahun dia gak sadar. Dia adalah sahabatku.

Mungkin sifat cuek dan egoisku. Untuk berkata, aku mencintainya.

Sosoknya berwajah tirus , gayanya yang suka kepedean yang sering bikin rindu. Gurat langsat di wajah putihnya terlihat ia adalah sosok pekerja keras.

Aku tahu dari Tasya. Dia adalah sosok tulang punggung keluarga. Setiap malam selalu berjualan kaki lima. Untuk biaya hidup dan biaya sekolahnya.

Urat malu-nya juga sudah putus. Dia adalah orang paling nekat dan paling Pede yang pernah aku kenal.

Pernah hanya karena uang Rp.20.000 saja, dia sanggup meminum air kobokan dengan berbagai macam rasa.

Dan dia masih saja bisa tertawa.

Aku suka dirinya. Selalu bisa tertawa meski banyak yang tak suka dengan apa yang ia lakukan.

Kata-katanya sehabis ujian semester itu yang sampai sekarang aku ingat dan aku jadi penasaran; diskotik itu seperti apa sih.

Dia bilang begini, " ya ampun! Tadi malam habis aku jualan, aku ke diskotik, mau menghibur diri. Eh bukannya terhibur, kepala goyang tapi mikir ya ampun.. Besok semesteran... Hahaha"

Yang lain tertawa. Aku terdiam tapi hatiku tersenyum manis.

Ternyata sahabatku, anak yang baik. Habis jualan mencari nafkah. Dia menghibur diri ke diskotik. Tapi memang hatinya baik. Yang dia pikirkan malah ujian semester.

Indah ya.

Aku selalu suka dengan dirinya.

Dulu dan sekarang.

Dimana aku menemukannya.

Aku suka menyebutnya cherryblossom

Satu-satunya hal yang aku percaya

Kenangan tentangnya selalu bikin aku bahagia

Namanya Sutan Sharir. Aku suka manggil dia- Kakak Tatan

Beda satu tahun dariku.

Dia selalu bilang, aku itu anak yang cerdas. Padahal dia juga gitu.

Coba liat namanya. Ayahnya pasti terinspirasi dari Mentri dalam negeri Indonesia yang kedua.

Sutan Sharir

Namanya secerdas hatinya.

Aku mencintainya.

Dia yang aneh tapi memukau.

Kamu jangan ya. Dia hanya untukku.






Comments