Mereka yang melamar

Aku lebih suka memilih dibanding di pilih


Ini kisah Mereka yang pernah melamar
Kabanyakan udah nikah semua sekarang. Hehehe

Tapi aku pengen cerita ini.  Sebagai hikmah dan pelajaran hidup yang bagus untuk diriku dan orang lain yang membaca tulisan ini.

Pertama kali dilamar, oleh teman diskusiku yang sudah memiliki hubungan yang baik selama dua tahun, abahku nerima dan sayang sama dia.  Karena dia berani datang sendiri ke rumah saat memintaku.  Cuma, dia belum mampu berteman dengan kakak-kakakku, hehehe. Dan hubungan kami menjadi kurang baik sehingga lambat laun, dia tak pernah aku temukan lagi.

Kedua kali di lamar, oleh sepupuku dari pihak ibu, yang melamar ibunya.  Kakak-kakakku setuju.  Sayangnya, aku kurang berminat untuk menikah. Karena sedang melanjutkan kuliah  dan konsentrasi menghidupi diri sendiri dan keluarga. Akhirnya aku dengar, tak lama dari penolakan halusku, ia menikah.  Tapi aku orang yang baik.  Aku datang ke pernikahannya.  Dan mendoakan yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya.

Ketiga kali di lamar, oleh orang yang gak ku kenal.  Di pedalaman Kalimantan Utara, di sebuah masjid.  Awalnya aku gak nyangka dia ngelamar.  Kenal juga baru beberapa hari.  Karena aku suka sholat disana, dan sering jadi Makmum perempuan sendirian.
Ketika subuh, beberapa hari bertemu dengannya.  Ia sering menyapa.  Hingga pada hari itu, dia langsung memintaku untuk menikah.  Aku kaget bukan main.  Orang ini siapapun aku gak tahu.  Tiba-tiba ngajak nikah, sedari itu.  Aku langsung menghindar.  Karena aku lagi fokus ikut ujian masuk pegawai.  Bukannya menikah.  Hehehe.  Jadi atas kejadian itu, aku pindah kost. Dan nginep di hotel.  Haha. Kejadian unik yang gak bisa aku lupain.

Keempat kali di lamar, sama seorang dosen cumlaude, dari mamanya.  Pas ketemu aja, aku gak tahu itu adalah pertemuan lamaran.  Dia pas liat aku, langsung klik dan bilang mau langsung menikah saja.  Aku aneh.  Dimana-mana menikah itu harus berkenalan, tahu baik buruknya sifat dan belajar kompromi satu sama lain.  Tapi ini, langsung pengen ngelamar aja. Kata ibunda nya, beberapa minggu lagi akan melamar.  Kakak-kakakku setuju, aku yang nelangsa.  Nangis di kamar.  Gak pengen di jodohin. Apalagi di iming-imingi bakalan keluar negeri bareng dia pas S3 serta mamanya bilang dia punya rumah, seakan-akan aku gila akan harta.  Ya ampun, impianku aja pengen miskin.
Karena desakan ibunda nya untuk memperjelas, aku bilang sama kakakku--kami harus bertemu.  Banyak hal yang ingin aku tanyakan serius.

Tapi untunglah, berjalannya waktu, dia mundur secara perlahan.  Dan gak lama aku dapat undangan pernikahannya, selamat.  Hehehe.

Semoga untuk berikutnya, tak ada lagi yang melamar.  Karena aku benar-benar memilih ingin sendiri dengan berbagai macam alasan.

Jika mau tahu alasan yang banyak itu, kamu bisa baca satu persatu tulisan di blogku ini.  Aku menjelaskannya secara kronologis.

Dan aku mengambil kesimpulan.  Lebih banyak manfaatnya jika aku memilih untuk sendiri.

Mereka yang ingin melamar orang yang disukai .  Usahakan tahu spesifik calon yang ingin dilamar.  Tanyakan sifat-sifatnya dengan keluarganya dan sahabat terdekat nya.  Jika tidak berjodoh. Jangan lah dendam.  Apalagi manggil dukun untuk mencelakakan orang yang menolak lamaran nya.

Karena pada dasarnya perbuatan buruk yang kamu lakukan untuk orang lain, nantinya akan kembali berpulang kepada dirimu sendiri.

Melamar Itu tak ada larangannya jika kamu tertarik dengan seseorang yang kamu sukai.  Namun pastikan dulu kamu mengenal prinsip hidupnya, agar kamu tidak kecewa di kemudian hari.

Seperti diriku, lebih suka memilih di banding di pilih 😊😀

Okay. Bulan ini banyak kayanya yang menikah.

Selamat menempuh hidup baru, semoga selalu bahagia sampai kapanpun juga, aamiin ya Rabb.

Aku tunggu undanganmu ya.  Hehehe.