Aku memilih sendiri

Kadang aku heran dengan dirimu
Betapa inginnya melihatku menikah
Bagimu, aku ini stres dan perlu obat yaitu menikah

Aku hanya tersenyum tipis
Gak semua orang, isi otak bahagianya itu adalah menikah
Seperti aku sekarang.

Bagiku, menikah bukan pilihan tetapi sebuah keputusan
Aku memutuskan untuk tidak menikah karena banyak hal
Dan banyak alasan

Sekiranya kamu terdiam, jika aku jelaskan sedetil-detilnya
Aku selalu bisa menyelesaikan masalahku
Kamu gak usah terlalu berpikir pernikahan adalah penyelesaian hidupku
Kamu pikir nikah itu Tuhan? , nikah itu sebuah sarana untuk beribadah kepada Allah

Dan jikalau, aku tak ingin.  Aneh kah?
Aku tidak berpikir itu  aneh.  Kamu yang sangat aneh.
Kamu berpikir, pernikahan bisa membuat aku bahagia
Standar bahagianya itu menurutmu adalah seorang suami
Aku tak pernah bermimpi besar memiliki suami untuk ku jadikan pelarian
Untuk aku bisa bahagia

Aku memilih sendiri seperti layaknya seorang penyair yang mencintai sastra yang tak berujung
Mirip seorang Rabiah al adawiyah atau pu jangga seperti kahlil gibran
Bahagianya ada dalam hatinya dan bukan soal pernikahan atau masalah sendirinya

Tapi ini masalah prinsip, bagiku.  Ini prinsipku.
Aku yang memilih sendiri.  Dan aku sendiri yang memilih takdir itu.

Karena aku bukan Princess, atau calon istri sholehah yang berakhlak mulia,
aku memilih sendiri untuk kamu mengerti bahwa di dunia ini kebahagiaan itu bukan tentang menikah dan menikah saja.  Tapi tentang cinta kepada seluruh manusia dan cinta kepada makhluk Nya

Itulah passionku, lebih indah dari pernikahan yang kamu rancangkan untukku
Maaf, sampai kapanpun aku tak berminat.