Surat Cinta Untuk Haris

Dia yang sekarang, buat aku makin jatuh cinta 
“Jadilah pacarku Chika?” ucap Haris dengan malu-malu, Haris berumur 15 tahun sedang menunduk sambil menyodorkan setangkai Mawar .
Chika hanya tersenyum manis, dan langsung berucap , “Maaf, aku gak suka sama kamu” ucap Chika pendek,
lalu berlalu begitu saja meninggalkan Haris yang masih tersenyum tipis.

Mengingat kejadian itu, Chika pasti hanya bisa gigit jari, karena saat masuk SMU, cowok yang ditolaknya waktu SMP itu kini menjadi cowok cakep, tinggi dan gak lebih pendek dari dirinya, apalagi kini Haris terkenal dikalangan teman-temannya.

“Chika, Haris itu cakep banget ya, apalagi saat dia masukin bola ke ring, duh naksir berat deh aku” kata Sopie saat menonton pertandingan Basket menyambut ulang tahun sekolahnya, SMU.
Chika hanya mengangguk pelan, Teh Pocinya hanya diaduk-aduknya, kini ia memperhatikan wajah Haris, yang saat itu sedang menyeka keringat, badannya kini tinggi, meski dahulu sewaktu SMP pendek, kini tubuhnya semampai, senyum khasnya itu mengingatkan Chika, ketika cowok itu menembak dia sewaktu SMP dahulu, dan dia ditolak, cowok itu masih bisa tersenyum. Kenapa dahulu dia menolaknya ya, apa karena dia belum tahu apa itu artinya cinta.

“eh, bukannya waktu SMP, kalian sekelas ya, salamin buat aku dong Chika” ucap Sopie lagi tiba-tiba, dan mengambil teh Poci milik Chika, yang sedari tadi di cuekinnya.
“ah.. kenapa gak kamu aja, sekarang aku gak begitu akrab” dengus Chika agak kesal, lalu dia beranjak pergi. Namun saat ia turun, sebuah bola Basket tidak sengaja memukul kepalanya, hingga akhirnya Chika pingsan. Semua orang lalu berlari menuju kearah Chika, terlihat sosok Haris berlari, tak lama ia sudah membopong chika ke ruang kesehatan. Kini Sopie tergangga, cowok cakep itu menggendong chika.
****
“emh, mmh…mmhh…” tak lama chika membuka matanya perlahan, Wajah Sopie sumringah, kepucatan di wajahnya berangsur hilang, saat ia tahu, sahabatnya sudah sadar dari pingsannya, hampir sore, ia nungguin chika yang belum sadar-sadar, padahal sekolah sudah pulangan dari tadi.
“Chi, kamu gak apa-apa?, syukurlah, aku takut kamu kenapa-napa, habis lama bener sadarnya”, kata Sopie membantu Chika bangun, duduk di tempat tidur ruang kesehatan.
“aku kenapa, Sopie?” chika memengang perban di kepalanya, tak lama dia meringgis kesakitan, “aduh, apa ini?” ucapnya lagi.
“tadi kamu pingsan kena bola basket chi, kamu tahu gak?, Haris tadi yang gendong kamu kesini, duh dia gentle man banget” Sopie berucap sambil berbinar-binar, Chika kaget, tak lama dia bersemu merah. Haris?—pikir hati Chika antara senang dan bingung.
***

“Apa ini?” Haris menonggakkan kepalanya ke atas, sosok cewek manis yang dulu ia sukai, sudah berada di depan garasi rumahnya, Minggu pagi itu Chika sengaja mengunjungi tetangganya, sambil membawa coklat sebagai ucapan terima kasih kepada tetangganya, sekaligus teman kecilnya itu.
“makasih ya Ris, kata Sopie kamu yang bawa aku ke ruang kesehatan”
Haris lalu tertawa.
“gak masalah lah Chika, kamu mah gak pernah berubah, selalu super duper lamban, sampai bola basket bisa mengenai kepalamu itu, padahal teman-teman banyak meneriaki kamu loh…” kata Haris sambil nyengir, seraya mengambil coklat yang di berikan Chika.
“enak aja, aku gak lamban tahu!, kemarin emang lagi mikirin sesuatu aja, makanya gak denger”
Haris kembali cekikikan.
“Kamu gak pernah berubah, Chika,, nih mau?” Chika menoleh kearah Haris—apaan yang aku gak pernah berubah—ucap Chika dalam hati—dulu aku gak suka sama kamu, sekarang malah tambah suka, apalagi kamu begitu baik, kenapa aku gak pernah nyadar, aku sudah berubah, Ris—Chika memendam rasa, sambil memperhatikan potongan coklat yang di berikan Haris padanya.
“Kenapa kamu, Chi? Lagi puasa?” Chika menggeleng pelan, lalu diambilnya coklat itu, sambil menunduk sedih. Haris mengernyitkan dahinya, ada apa nih dengan gadis manisnya, apa masih sakit, wajahnya seperti murung.

“Chi, kamu bisa bantuin aku gak? Sebagai ucapan terima kasih kamu ke aku”
“Hah? emang coklat gak cukup ya Ris?” Haris kembali cekikikan kembali.
“coklat itu sebagai bonus lah, kalau yang ini, dari tadi malam aku sudah pikirkan, untuk memintamu melakukan sesuatu padaku”
Kini Chika yang mengernyitkan dahinya, heran. “Apa?” ucapnya penuh rasa penasarannya.
“Kamu bisa buatin aku surat cinta gak Chi? Habis aku binggung mau nulis apa?”
“surat cinta? Buat siapa ris?” ada luka di hati Chika, saat berucap begitu, oh ternyata surat cinta, kamu sudah mendapatkan cewek yang bisa menerima cintamu, bukan seperti aku, menyesalnya, andai waktu bisa diulang, aku pengen nerima kamu ris—
Bathin Chika berucap.
“Kalau itu rahasia, yang pasti ceweknya sebaya sama kamu, dia tipe orang yang riang, aku bingung nulis surat cinta,Chi.. ntr malahan aku di tolak lagi deh,,haha.. tolong bantu aku ya” Haris mengedipkan matanya. “aku yakin, kamu bisa bantu aku, kamu khan juara satu Puisi di sekolah kita” ucapnya lagi.
Chika bengong, melihat pesona Haris—duh ni cowok cakep banget, dia mengedipkan matanya di tambah dengan senyum manisnya, siapakah cewek yang beruntung itu—tak lama Chika mengangguk, sambil tersenyum menunjukkan dua lesung pipitnya.
***

Harus mulai dari mana ya?–Ucap chika pelan dihatinya. Kini ia sedang berada di meja belajar rumahnya, secarik kertas berwarna merah jambu sedang di hadapinya, semakin ia memikirkan cewek yang disukai Haris, semakin sulit kata-ata yang keluar dari otaknya, andai aja kemarin dia gak bengong saat turun podium, dan gak pingsan kena bola basket, dia pasti gak akan di tolong Haris, apalagi Haris gak akan meminta pergantian tolongnya dengan membuatkan surat cinta untuknya. Chika mengumpal-gumpal poninya, telunjuk pulpennya di ketuk-ketukkannya. Siapa gadis yang disukai Haris? Apakah Delia? Dia khan cewek popular di SMUku, atau Riska, akhir-akhir ini aku ada liat dia akrab dengan Haris. Cewek yang riang ya?—ucap hati chika lagi, sambil mendengus kesal, lalu dia pun langsung menulis kata-kata dalam surat tersebut.
***

Ketika Chika berada di Kantin dan mencari sosok Sopie, ia ingin curhat tentang Haris, tiba-tiba Chika dikejutkan pemandangan yang berada di depannya, Sopie dan Haris sedang berbicara akrab sambil menikmati Teh Poci dan semangkuk bakso. Chika cemberut—oh.. cewek itu sopie?!, iya sih dia ceria, dia cantik dan baik hati, kalau begini, aku memang sudah kalah dari awal—bathin Chika membulat sedih.

“Chika!, kemari” tiba-tiba suara Sopie menyadarkannya. Tapi tak lama chika menghampiri mereka berdua.
“duduk disini Chi, mau pesan bakso juga?” ucap Haris kearah Chika, sambil tersenyum. Chika menggeleng lemah.
“aku ganggu kalian?” ucap Chika memperhatikan wajah Haris yang sedang tersenyum—Chika jadi senang melihat senyumnya—Ya Tuhan.. aku benar-benar suka sama Haris, kurang beruntungnya aku— ucap hati Chika lagi, dengan senyum tipis, dia membalas senyuman Haris.
“ah enggak lah chika!, Haris cerita tentang kamu di sekolah SMP dulu, ternyata kamu super duper lamban ya, conectnya musti nunggu berjam-jam dulu, baru deh kamu ngerti, haha” Sopie tertawa riang, diikuti Haris, kini ia seperti senang mendengar ucapan Sopie, mereka cocok sekali—chika berucap lagi di benaknya, sambil murung.

“ Gimana Chi? Udah selesai tugasmu? Aku minta sabtu sore ini kamu antarkan ya?”
Haris mengedipkan matanya.
“Pasti sudah selesai, kapan-kapan aku boleh kerumahmu ya Ris, khan kalian bertetanggaan, aku pasti bakalan senang cerita-cerita lagi sama kamu” ucap sopie lagi tiba-tiba mengalihkan tatapan Haris ke Chika.
“Yup tentu saja” Haris berucap dengan mantap.
Chika bertambah murung, ia mengangguk pelan, namun hatinya sedih banget. Sabtu sore ini dia akan berikan surat cinta yang dipesan Haris itu, dan malamnya Sopie dan Haris pasti akan jadian.
“Kalau udah bicarain kejelekanku sih, kamu senang Ris” kesal Chika berucap, lalu dia pergi begitu saja, membiarkan dua temannya jadi heran, saling bertukar pandang, tak lama mereka tertawa penuh riang. Chika-chika, begitu manis kalau marah—Haris membenak.
***

Dari dahulu, aku sudah memperhatikanmu
Meski dedaunan bisa mengering,
Tapi, ku yakin rasa sukaku padamu, selalu akan tumbuh
Tolong izinkanku mencintaimu, menyukaimu
Dan memilikimu menjadi kekasihku
Haris

Satu persatu kata-kata di surat yang di bikin Chika, ia perhatikan, wajahnya belum tersenyum, malah sedikit terkesan heran. Kini Haris di sore itu, meninggalkan motornya yang ia mau cuci, karena menyambut chika yang membawa surat cinta pesanannya, untuk orang yang ia taksir.
Chika jadi heran juga, sepertinya Haris kurang suka dengan kata-kata di surat itu.

“Ada yang salah Ris? Sepertinya kamu kurang suka?” Chika berkata, sambil mencoba melihat isi suratnya kepada Haris. Namun karena Haris sudah tinggi, Chika hanya bisa berjingkit-jingkit. Keheranan Haris kembali menjadi Tawa, saat ia melihat ulah chika yang barusan. Lalu ia mengacak rambut chika dengan gemas.
“Ni anak benar-bener gak berubah, masih kaya anak-anak, haha.. coba deh kamu baca chi, sekali lagi..” Haris memberikan surat itu kepada Chika. Chika menembemkan pipinya—kaya anak-anak? Tapi malah minta bantuan aku bikin surat cinta yang nyebelin ini, huh—Chika jadi bête, hatinya mendengus berkali-kali.

“Udah.. terus ada apa? Kurang bagus ya? Kurang menarik? Gak romantis ya? “ tak lama Chika membaca, ia keluarkan ucapan itu, agak binggung juga ia dengan melihat reaksi Haris, selama ini, ia tahu, Haris selalu mengiyakan kata-katanya dalam apapun ia lakukan, kenapa surat cinta yang pendek dan terlihat puitis ini dia jadi gak suka—apa karena aku gak tulus bikinin dia ya, apalagi saat aku tahu, cewek itu Sopie,ah jadi sebel—kini chika cemberut.
“Sebenarnya bagus Chi, tapi kamu yakin cewek yang aku sukai itu akan menerimaku, serius nih chi?”
“Pastilah ris, semua cewek yang baca tulisan ini, pasti dia langsung suka sama kamu, dan aku yakin, siapa sih yang gak suka sama Haris, apalagi puisi ini bikin cewek-cewek klepek-klepek” kata-kata Chika, membuat hatinya sedih mendalam, kenapa harus ia berkata begitu, padahal hatinya sakit sekali menuliskan surat cinta itu, kalau bukan balas budi saja, dia pasti gak bakalan mau.
“Siapa sih cewek itu Ris? Sopie ya? Aku lihat kalian cocok dan akrab”

Haris mendelik, sepertinya kaget, lalu tersenyum manis.
“Kamu kok yakin, kalau cewek itu Sopie, chi?, aku malah gak yakin kalau surat ini bisa membuat aku diterima oleh cewek yang aku sukai”
“Aku punya felling aja, Sopie yang kamu sukai, apalagi waktu dikantin kemarin, pembicaraan kalian serasa dunia milik berdua aja” Chika menembebkan pipinya.
“Kamu cemburu Chi?” kata-kata Haris, membuat Chika yang kini kaget dan gelagapan.
“Enak aja, siapa yang cemburu, lagian aku khan udah nolak kamu Ris, jadi aku gak bakalan cemburu hal sepele gini, kalian udah cocok,buat apa aku cemburu.. aku pulang dulu deh Ris” Chika berucap sambil kesal, tak lama tangan Chika dipegang oleh Haris dengan Kuat.

“Bener khan Chi?!” Kini mata Haris menatap sendu wajah Chika, Chika menjadi tambah deg-degan, kenapa Haris memegang tangannya, apalagi tatapan sendunya, makin membuat rontok hati Chika, begitu ia menyukai cowok didepannya ini.
“Apa yang bener? Aku gak cemburu!” bentak Chika lagi, dan berupaya melepaskan genggaman Haris, namun genggaman Haris terlampau kuat.
“Ya bener, surat cintamu gak mempan sama cewek yang aku sukai” Kini Haris melepaskan tangan Chika, dia berkata pelan seperti sedih. Chika jadi merasa tidak enak, baru sekali ia melihat wajah Haris yang penuh senyum menjadi sedih begitu.
“Loh kok kamu malah sedih Ris, khan belum di coba, gini deh.. Sopie pasti nerima kamu, aku yakin kok.. apalagi dia udah naksir sama kamu, surat cinta ini pasti bikin Sopie gak akan pernah nolak kamu, gak ada yang akan nolak kamu lagi Ris”

“Ada chi” Haris menatap bola mata Chika. Chika heran.
“Siapa? Sopie? Atau cewek lain lagi?”
“Kamu, chi” kata-kata Haris membuat Chika terdiam lama, ia menutup mulutnya yang sedang tergangga kaget.
“Surat cinta ini gak akan mempan denganmu, padahal Kamulah, cewek yang selalu ku sukai” Haris kembali memegang tangan chika. “dari dulu, gak pernah berubah”
Chika tersenyum di ambangi dengan tetesan air mata di pelupuk pipinya yang merona merah.
“Aku gak pernah bilang, gak suka surat ini Ris, apalagi ini aku yang bikin, kukira kamu menyukai cewek lain, makanya kutulis sependek mungkin, karena aku kesal.. habis aku setelah menolakmu dulu, menjadi benar-benar suka padamu” Chika malu-malu berucap.
Haris tertawa dengan lebar.
“Chika sayang nan manis dan selalu saja lamban, apalagi soal perasaan” Haris tiba-tiba menjitak kepala Chika, tak lama sore itu menjadi sangat ramai, karena teriakan Chika yang mengejar Haris.
“Haris! Awas kamu ya!”
“Coba kejar aku, kalau gak dapet.. malam ini, kita harus jalan-jalan yaaa…..” ucap Haris sambil tertawa berlari-lari dihalaman rumahnya.
Chika hanya mencibir manis.
***