Ketika Arjuna Jatuh Cinta



Degup jantung Arjuna mulai naik turun, keringat dingin pun mulai membasahi kulit putihnya. Mulutnya bagai terkunci, pikirannya tiba-tiba saja hilang. Sosok cinta yang ditatapnya dengan tidak sengaja itu, langsung menancap dasar isi hatinya. Padahal sudah sekuat tenaga dia menahan untuk tidak melihatnya. Tapi apalah daya, disaat dia menonggakkan kepalanya perlahan. Cinta menatapnya dengan pekat, dia memperhatikan dengan serius, tanpa bicara. 
“Arjuna…?!, kamu sedang sakit?” Miss Stefinaky yang saat itu menjadi moderator—tiba-tiba menepuk bahunya. Tak lama terdengar suara riuh mahasiswa Universitas Tokyo—Jepang, yang saat itu sedang mengikuti lomba Ikebana—merangkai bunga yang diadakan setahun sekali untuk menyambut Hinami—perayaan musim semi di Jepang, mereka tertawa dan geli melihat kecanggungan teman terpintar mereka. Arjuna makin gelagapan, cinta melihatnya, kini dia tertawa. 

Oh Tuhan…cantik sekali. Bunga yang dirangkai Arjuna makin ia lupakan, pagi itu tiba-tiba saja menjadi hal yang membosankan dan melelahkan bagi Arjuna Dwitama, cowok impian semua mahasiswi di Universitas Tokyo, darah Indonesia itu sering kali menjadi bahan obrolan mahasiswi-mahasiswi karena ketampanan dan keramahan dia, Apalagi Arjuna adalah salah satu nominasi terbaik yang karya Ikebananya sering mengilhami Mahasiswa untuk mencintai Alam dan bunga-bunga, ini baru saja dilanda virus merah jambu kepada cinta yang saat itu sedang duduk tepat didepannya. 
“Maaf, Miss…anuu…saya….eeh…”
”Kebelet nih, Jun!” Tawa riuh kembali menghiasi seisi ruangan. Membuat Arjuna merah padam. Tapi, bukan itu.. sungguh bukan itu, dia malu.. bukan karena ditertawai oleh teman-temannya. Sekali lagi, bukan itu—Cinta sedang tersenyum padanya. Oh God!, Biarkan waktu berhenti—benaknya memohon.

” Aku bingung, Tamaki!” Ucap Arjuna sedikit menerawang kearah langit-langit kantin yang mulai terlihat bocor akan tetesan air hujan akhir-akhir ini. 
Tamaki Ikazura cuek sambil manggut-manggut, mulutnya penuh dengan Oden hangat—masakan lobak , mie rebus dengan dicampur telur rebus, bekal makanannya siang ini, katanya sih—pacarnya khusus membuatkan untuknya untuk menghangatkan tenggarokannya—yang katanya sedang terlanda Flu.
” Apa ini yang namanya cinta?” lanjutnya lagi.

Tamaki menyerumput kopi hangat dengan tanpa aba-aba, syukur-syukur kalau dia tidak tersedak. Kembali dia menyantap oden-nya dengan buas. Sekarang tanpa manggut-manggut, kini dia geleng-geleng. Mengangkat tangannya serta pundaknya sedikit. Arjuna memperhatikan mie yang terurai dalam Oden Tamaki yang sedang akan dimasukkan didalam mulut sobat satu asramanya ini. Mie, panjang seperti rasa penasaranku pada cinta. Rasa inginku ingin memilikinya. Yah, seperti mie itu. Tapi, sepanjang itu pula rasa maluku untuk bilang padanya— oh.. Tamaki bagaimana ini?—benak Arjuna melompat-lompat, cemas.

Tamaki bukannya menjawab, malah tengah serius bercengkrama bekal makan siangnya yang—tak mengugah hati Arjuna untuk makan bersamanya. Arjuna menelan napas panjang. 
Dia baru tahu beginilah kalau sedang jatuh cinta. Padahal jujur saja, dia tidak percaya dengan cinta beserta embel-embelnya. Tapi gara-gara waktu itu. Waktu dia mencoba menyendiri dengan mengikuti mata kuliah dari jurusan lain tanpa disibukkan dengan pekerjaan mata kuliah yang menumpuk, ataupun proposal yang harus naik ’banding’ dengan Direktur tersayang, dia tak sengaja menangkap sosok alami cinta yang menyadarkannya dari puluhan tahun, puasa ’naksir’ cewek. Padahal cinta itu sudah ada lama didalam kampusnya. Hanya saja dia baru sadar kalau ternyata. Cinta itu ada.

” Maaf, ini bangku saya..” sosok Gempal itu menghampiri Arjuna yang sedang lesu duduk di bangku belakang. Arjuna memperhatikan sejenak. Suaranya lembut namun tegas—seorang gadis, dengan jilbab putih berbadan subur dihiasi dengan wajah oval mirip sekali dengan bola kesukaan Andi—Adik kesayangan Arjuna yang kini berada di kalimantan itu sering kali merengek minta dipecah tabungannya hanya demi membeli sebuah bola yang tidak bisa ’mentul’ alias bulat yang terbuat dari benang wol, sering kali ibu sering memanjakan Andi, hingga membeli bola setiap pulang dari supermaket.

”Maaf?, memangnya disini ada nama kamu, dut?” Ucap Arjuna cuek. Tak biasa memang ia bersikap angkuh. Hanya saja waktu itu dia sedang kehilangan sifat ’ramah’nya karena tersandung dengan mood yang tumpang tindih akibat urusan proposal yang hampir di ’Drop Out” dengan bagian administrasi staf Kampus. Langsung saja ia mengejek tanpa alasan.

Seakan tersinggung. Gadis yang ada didepannya itu mendelik, dengan marah.
”Kalau tidak mau memberi—ya— jangan menghina!” Iapun beranjak dari tempat duduk Arjuna. Kemudian keluar, dengan menenteng sebuah kursi. Suasana ruang kuliah Jurusan Lecture Art Japan itu tiba-tiba riuh dengan tawa seisi ruangan, ketika gadis berbadan subur tadi masuk dengan menenteng kursi.
Arjuna ternganga.

”Oh.. Ma—af” suaranya lirih, tersedak ditenggorokan. Baru kali ini dia tidak sengaja menghina seorang wanita. Didepan mahasiswa-mahasiswa—gawatnya lagi, dia baru sadar dia tidak lagi sendirian diruangan itu karena jurusannya sudah bubar hampir satu jam yang lalu. 
Dia tidak sadar kalau cinta itu adalah gadis yang berbadan subur yang barusan ia hina. Kejadian itu terjadi saat Arjuna mencoba meminta maaf dengan gadis itu yang ternyata namanya adalah Yumiko Shafa. Namun Arjuna senang memanggilnya cinta.

”Saya memang sering dihina. Saya maklum” ucap Yumi—gadis imut—berjilbab lebar dengan lesung pipit di pipinya yang oval apel itu. 
”Bukan itu maksud aku. Aku tuh...”
”Anda tidak pantas berteman dengan saya” Kata-kata terakhir Yumi ini, yang menepuk otaknya dengan keras. Hatinya pedih.
”Puuk!” Sakitnya kian terasa diotak. Arjuna menunjuk-nunjuk otaknya, seraya memukul-mukul dengan kertas mid test yang digulungnya bak bungkus kacang.
Tamaki cekikikan. Mendengar cerita Arjuna dengan raut wajah yang sebentar-bentar berubah jadi galak, kaget, tersipu-sipu, dan sedih. 
”Kalau aku jadi kamu, Jun, cuekin ajalah, seperti gak ada yang lain saja— bukankah cewek-cewek disini cakep-cekep semua, kenapa kamu malah kepincut sama cewek model seperti itu”

”Namanya cinta, Tamaki!”
”Ho-oh.. Terus apa istimewanya?”
” Ya, dia istimewa—Dia itu beda, karena....”
Ucapan Arjuna terhenti. Dia mulai mengerlingkan matanya, aneh. Oh God!, dia baru sadar kalau selama ini dia menyukai cinta—dengan tanpa alasan.
”Karena...?” Mata dan mulut Tamaki pun mengikuti gerakan mulut dari sahabatnya tersebut. Arjuna Kelu, namun tak berbicara sepatah kata pun. Entahlah.. Kata-kata itu hanya sampai diujung tenggorokannya. Tamaki menyerumput kopi hangatnya lagi, sambil diudak-udaknya. Kemudian cegegesan tiba-tiba, dijulurkan lidahnya dengan sok centil. 
”Karena dia ’endut ya?!, ha..ha..ha” celetukan Tamaki, langsung dibarengi dengan jitakan maut Arjuna.
”Sembarangan!”
” Orang Indo memang unik” cengir Tamaki menyindir Arjuna, Ia hanya mencibir dengan memburu jitakan ke arah kepala Tamaki.
***


Dari obrolan gila Tamaki, Arjuna mulai memikirkan—alasan apa dia menyukai cinta. Yumiko—aku sering lupa kalau itu namanya—aku lebih suka dengan panggilan ’cinta’ untuknya. Seorang Gadis berketurunan dua negara—dengan ayah berketurunan arab dan ibunya adalah keturunan jepang— berwajah oval, berlesung pipit dua dengan mata birunya yang saat berbicara seperti memberi kilatan pada orang yang melihatnya. Cinta itu memiliki wajah yang indah, senyumnya jarang diumbarnya—namun jika sekali tersenyum—seperti bidadari—yah, dia unik. Belum lagi, Kata-katanya yang singkat, tapi jelas sekali. Arjuna mulai ingat, pernah suatu hari—dia berpapasan dengan cinta saat didalam Lab Komputer kampus.

”Hai, lagi sibuk ya?” Arjuna menggaruk-garuk kepalanya—menyembunyikan raut wajahnya yang memerah.
”Ya” Cinta tak berkedip sedikitpun dari layar komputernya.
”Oh, lagi ngapain?” Kini Arjuna mulai memberanikan diri menatap cinta disampingnya—walau sedikit-sedikt.
”Ngetik!”
”Buat apaan?”
”Tugas”
”Oh.. siapa pengajarnya?”
“Prof Tatsuro”
”ohh...Kamu apa kabar nih?”
”Baik”
”Masih marah ya, soal yang waktu itu?”
”Enggak”
”Serius nih?, aku minta maaf deh”
”Iya”

Mati kutu deh!!!—pelit banget ngomongnya, Non...

Mengingat itu Arjuna jadi sering tertawa sendiri. Tapi begitulah cinta—dia memang beda. Dan Arjuna tidak usah repot-repot mencari alasan mengapa dia mencintai cinta. Lagian, Arjuna sekarang mulai mencari-cari informasi mengenai cintanya. Bahasa yang terlantun dari mulut cinta kadang beraksen inggris yang mempunyai struktur bahasa halus dan mudah dimengerti, nada bicaranya yang tegas. Membedakan ia dengan perempuan-perempuan Jepang yang sering mendekati Arjuna ataupun para perempuan Indonesia yang melakukan pendekatan ”agresif” yang membuat Arjuna menjadi mati rasa dan tak mencoba untuk melirik ataupun melihat mereka.

Usut-usut punya usut. Si cinta ini adalah Perwakilan keputrian di remaja masjid di Universitas Tokyo tersebut. Arjuna mulai berpikir, jika dia ingin mendapatkan hati cinta—maka dia harus mengubah penampilannya menjadi seorang pemuda masjid. 

Yang memakai celana gantung diatas mata kaki, dan bahasanyapun mulai diperbaikinya serta senantiasa memakai peci kemanapun ia pergi. Dan akhirnya, ia pun merelakan celana kulot kesayangannya dipotong 10 centi, serta rela-relain berburu peci yang biasa dipakai pemuda mansjid, kecil, bulat dan bahan dasarnya dari kain— di pasar-pasar tradisional—bukannya kenapa-napa—hal ini sangatlah berbeda dengan kebiasaan Arjuna—yang tak lain—tak bukan, sangat anti dengan pasar yang tidak memakai AC, apalagi jalanannya becek, penuh dengan orang yang berjualan dengan tidak rapi, dan tak jarang berdesak-desakkan hanya untuk mendapatkan barang-barang yang murah dan bagus—tapi demi cinta—dia lakukan semuanya. 

”Ya ampun, Jun.. kamu salah makan apa?—kamu kesurupan hantu ya Jun?” Itulah ekspresi pertama Tamaki—yang tidak percaya, sahabat Indonesia kerennya itu berubah.

Arjuna cuek saja, berapa orangpun menertawakan penampilannya yang baru. Dia tidak peduli. Yang pasti, dengan seperti ini, cinta akan mulai menyukainya. Walaupun, berubah seperti ini—Arjuna banyak berkorban—banyak organisasi yang terbengkalai—karena dia ’terlalu’ aktif di Masjid kampusnya, alasannya hanya satu—agar bisa lebih dekat dengan cinta. 

Tiga bulan sudah dia memasuki dunia ’lain’ dari kehidupannya hanya untuk sekedar melihat rutinitas cinta yang akhirnya membuat pengetahuannya pun sedikit bertambah. Dia mulai tahu, kalau cinta tidak menyukai pacaran. Karena saking demennya dengan cinta, kini dia mulai berencana untuk menjadikan cinta sebagai istrinya.

” Wanita itu suka sama lelaki yang bertanggung jawab dengan amanahnya, serta taat beribadah..” Ceramah Senior Abdul Damyoji—Ketua Pemuda masjid di kampusnya itu—mulai menyesakkan hati Arjuna saat mentoring pengurus berlangsung. 

Soal bertanggung jawab sih, dia selalu tepat waktu hadir di Masjid, organisasi yang lain sudah banyak ditinggalkannya agar tidak mengganggu rutinitasnya di keorganisasian masjid tapi kalau taat beribadah—hanya disini ini saja dia sering sholat, mengaji—tapi kalau dirumah—jarang, itu juga kalau ada mood—khan semuanya ini demi Cinta. Oke deh— kalau cinta memang menginginkan calon suami yang shaleh, dan rajin beribadah— Aku lakukan—pikir Arjuna—tak ada yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Arjuna.



”Apa?, menikah?” Mata Tamaki melotot, Oden kesayangannya hanya menjadi pajangan setelah ia mendengar ucapan dari Arjuna.
Arjuna mengangguk, senang.
”Sama siapa...?”
”Cinta”
”Ya ampun!, Sama cinta yang ndut itu?”
”Hei!—dia calon istriku,Tamaki!”
” Baru juga calon!, kamu kok yakin banget. Memangnya kalian sudah jadian?”
Arjuna menggeleng, tapi raut wajahnya belum berubah—masih tersenyum.
”Gila!”
”Emang!”

Keputusan Arjuna sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat. Walaupun dia jarang berbicara dengan cinta. Dia pasti yakin, cinta seringkali juga melirik-lirik pandang kearahnya. Apalagi, saat ada mentoring semua pengurus. Pertemuan mata mereka seringkali terjadi. Layaknya seorang pejuang didalam salah satu acara reality show di televisi, Arjuna berusaha mencari tahu kesukaan cinta. Sampai keakar-akarnya. Karena cinta ini bukan dijadikannya seorang pacar, namun akan dijadikannya seorang istri. Cinta yang satu ini benar-benar berbeda dari perempuan-perempuan yang pernah ia kenal. 

Mulailah ia hunting-hunting photo cinta di Kesektariatan Masjid. Setelah dapat, Arjuna langsung menempel poto itu di gabus-gabus yang telah ditempel dengan hiasan-hiasan Love, perjalanan cintanya, pengalaman unik saat ia memendam rindu kepada cintapun ikut nongkrong yang ditempel digabus-gabus tersebut.
Arjuna pun memberi tahu rencana ini kepada Tamaki. Awalnya, Tamaki sempat jantungan saat mendengar rencana yang akan dijalankan. Namun, karena sudah terbiasa dengan berita-berita ’aneh’ dari Arjuna, dia akhirnya menurut saja, tanpa komentar—pikir Tamaki—dari pada dia ikutan gila—nentang kemauan Arjuna—mending bagi orang waras—membahagiakan orang yang sudah terjangkit penyakit ’Gila” adalah hal yang terbaik yang bisa ia lakukan sekarang, dan Tamaki juga yakin, yang namanya Arjuna adalah satria terhebat di Indonesia, tak akan pernah kalah.

Setelah persiapan telah siap. Entah kenapa, degup jantung Arjuna berdetak kencang, seperti ingin keluar saja dari lapisan kulit. Tangannya sedang memegang sekumpulan rangkaian kelopak mawar dengan sakura—karyanya sendiri, disaat ia memikirkan cinta—mulutnya komat-kamit, seakan menghapal kata-kata yang sedari tadi telah dipersiapkannya. 

Belum lagi, keringat dingin yang merayapi seluruh badannya. Ini selalu menjadi kebiasaannya—jika akan berdekatan dengan cinta. Kalau bukan, karena ia teramat ingin memiliki cinta. Mungkin semua ini tidak akan dilakukannya—pikirnya, pasrah. Dan kini tiba saatnya, saat ia berkata jujur pada cinta. 

”Kata temen-temen, Anda mencari saya?” Suaranya lembut namun tegas kembali terucap. Bagai sebuah petir yang menyambar hati Arjuna— tak karuan.
”Oo.. anu.. iya” Jawab Arjuna pelan. 
”Ada apa?”
”Ini buat kamu” Arjuna mengulurkan rangkaian mawar dan sakura yang tadi dipegangnya kepada Cinta.
”Ini untuk apa?” Cinta menerima, segan.

Arjuna menghela napas, dalam. Kemudian melihat sekeliling. Terlihat banyak teman-temannya yang membawa gabus yang tadi telah mereka hias. Arjuna meniti satu-persatu tulisan yang ada. Sampai pada gabus yang dipegang oleh Tamaki, Sahabatnya itu memegang gabus yang ”spesial” bertuliskan ”May you married me?”. Jantung Arjuna makin kencang berdetak, saat melihat wajah cengegesan Tamaki, berubah menjadi pucat. Apa karena dia gugup juga?—aku harus berkata apa lagi, Cinta—bukankah tulisan itu sudah melambangkan perasaanku—kenapa aku jadi patung begini—bukankah aku seorang ”Arjuna”, Oh god!!.

”Tolong lihat, yang dibawa oleh teman-temanku ini. Ini semua untuk kamu”
”Sudah, terus?” Cinta mengernyitkan dahinya.
Arjuna yang tadi gugup, tiba-tiba merasa gemas. Masih saja ia keluarkan suara pelitnya dan kata-katanya yang super pendek, singkat dan padat itu—memangnya ngirim telegram—benak Arjuna berguman. Ingin ia cubit pipinya yang manis itu, melihat wajahnya ia berbenak mengoyangkan isi hatinya.
”Aku suka kamu” ucap Arjuna kemudian dengan lantang.
Cinta heran, namun tak lama dia tersenyum tipis.
”Jadi?”
Arjuna tambah Gemas
”Kamu mau jadi pacarku?”
”Maaf...”

Kini, jawaban Cinta—membuat Arjuna—riang—dia sudah tahu jawabannya—dia pasti menolak kalau dijadikan pacar, namun jika ia ulangi lagi pertanyaannya—ia yakin cinta tak akan berkutik lagi.

”Eeh.. maksudku, kamu mau jadi istriku?” Kata-kata Arjuna membuat Riuh teriakan mahasiswa-mahasiswa Universitas Tokyo yang sedari tadi sedang mengamati mereka. Ada rasa cemburu dari Mahasiswi-mahasiswi itu, ada siulan memberi semangat, ada yang berteriak histeris tidak percaya melihat apa yang diungkapkan pujaan mereka, orang indo tampan terpencut hanya dengan seorang Yumiko Shafa, yang sama sekali tak ada sempurnanya—pikir mereka.



Cinta terdiam, sepertinya dia kaget. Dengan ucapan dari Arjuna. 
” Sukron, atas perhatiannya...” sahutnya lembut.

Arjuna menunduk, menyiapkan hatinya. Saat cinta mengiyakan permohonannya. Mungkin dia akan berteriak sekuat-kuatnya agar seluruh dunia tahu, dia diterima oleh cinta. Karena sudah rahasia umum—seorang wanita seperti cinta sering disebut dengan akhwat— jika dilamar—tidak akan berani menolak—apalagi calonnya rajin nongkrong di Masjid, Nehi mohabaten deh buat ditolak.

Dan itu akan menjadi suatu kenyataan pada saat ini. Akhirnya pengorbanan lahir dan bathin seorang Arjuna tidak akan sia-sia. Setelah ini dia akan ber-Hinami bersama gadis ini dibawah dedaunan sakura yang indah dan sejuk menatapnya. Bayangan Arjuna sedikit lagi akan berbunga-bunga.
Yumiko mengernyit perlahan, melihat ekspresi Arjuna yang berbinar-binar.

” Tapi saya tetap tidak bisa menerima lamaran anda..”

Arjuna keget bukan main, dia menonggak dengan cepat. Tamaki saja tidak percaya—gadis seperti Yuniko itu menolak Arjuna yang sering dijadikan rebutan cewek-cewek dikampus. Bukannya, menikah adalah satu-satunya cara untuk mendekati Yumiko.

”Loh, kok bisa?, bukankah kamu memang gak suka pacaran?, dan kamu pengennya langsung menikah khan?, apa karena kamu masih kuliah, jadi kamu menolak menikah?” Cinta—Yumiko menggeleng pelan, dibarengi dengan senyuman manisnya. Ini senyuman kesukaan dari Arjuna—cantik sekali.
”Bukan, saya menghargai semua usaha-usaha anda, Selain saya belum begitu mengenal anda...”

”Oh.. kalau itu, tenang saja—aku bisa bikin kamu cepat kenal sama aku, aku orang baik-baik kok, Orang Indonesia yang ramah.. penyuka bunga, lain kali aku pasti akan tiap hari merangkaikan bunga untukmu” Arjuna mengedipkan matanya, centil. Cinta manyun, aneh.

”Iya, Tapi saya tidak berniat untuk menikah lagi, jadi maafkan saya”
”Hah? Maksudnya?” Mulut Arjuna tergangga. Tamaki dan mahasiswa yang lain pun tercekat tidak percaya. Menikah lagi?

”Afwan, saya sudah ada yang punya, karena saya sudah menikah”
”Apaa??!!!” Serentak semua mahasiswa berucap. 

”Sudah menikah?, sama si...apa?” tanya Arjuna, kelu—Ia pikir kenapa pertama kali Cinta berbicara dengan panjang dan tidak pelit kata-kata akan membahagiakan tapi nyatanya malah menyakitkan hati. Ingin rasanya ia menangis disitu. Tapi jelas saja ia tidak melakukannya. Karena seorang Arjuna tidak boleh menangis dan tidak boleh kalah. Duh.. tapi tetap saja, aku terlihat bodoh sekali—pikir Arjuna, merana.

Cinta mengangguk,
”Senior Abdul Damyoji adalah suami saya”gt 

Apaaa!!! 

Wajah Arjuna merah padam. Senior Damyoji?—ketua pengurus masjid itu— Oh God!, aku benar-benar kalah total—pikirnya serentak. Kini pengorbanannya seakan sia-sia. Menjadi saleh, rajin beribadah, selalu memakai peci, berkorban waktu menyusuri pasar-pasar tradisional yang becek, bau, serta merelakan berdesak-desakkan hanya untuk mencari peci-peci yang biasa dipakai oleh pemuda-pemuda masjid belum lagi usaha Arjuna yang merelakan memotong celana kolot kesayangannya diatas mata kaki— hanya karena ingin dekat dengan Yumiko—menjadi angin secara tiba-tiba karena menjadi sangat sia-sia. 

Mata Arjuna perih. Kepalanya mulai terasa berat—kali ini malunya menusuk hulu hatinya. Hinami—berjalan menyusuri taman sakura di musim semi ini kian memudar. Air bening mulai menggenangi kelopak matanya.



Buku ini adalah buku kumpulan cerpen yang bisa di pesan via website www.nulisbuku. Com  atau langsung dengan penulisnya disertai tanda tangan dan harga promo,  hubungi WA : 0858-28-64-2527
Beli 3 Gratis 1 dan beli 5 Gratis Ongkir