Dua Rasa Satu Hati

Rasa-ku berbeda dengan Rasa-mu

"Katamu, aku tak tahu apa-apa tentang hidupmu--aku tahu itu--tapi aku bisa pastikan, rasa cintaku lebih dari yang kamu tahu.."
------
(Satu)
Siang itu kututup Handphoneku dengan kesal, air mata pelan-pelan menggenangi naungan kelopak mataku. Langsung saja kurebahkan badanku lebih lama pada sofa ruang tamuku.Mataku memejam, pikiranku melayang. Pada percakapan kita yang barusan.

" Maaf, hari ini gue gak bisa nemenin kamu.."
"loh kenapa?, sibuk memangnya di kantor?"
"begitulah" ucapmu pendek, yg menghancurkan titik-titik harapanku.
"bagaimana kalau hari minggu? akhir pekan? sabtu? jum'at?" kataku meraba dari desahan napasmu yg kudengar diseberang sana.
"hhfmm... tidak bisa juga.."
aku tersedak, mendengar balasan jawabanmu.
"tidak bisakah meluangkan waktu? ada hal penting yang
ingin aku sampaikan..?!"


"Oh ya, disini saja, tidak masalah khan?" ucapmu tanpa ragu. Yang membuatku memutar otakku, membujuk dirimu. Paling tidak, ini hal yang harus aku sampaikan, karena ini menyangkut kisah hidupku dan dia. 

"Tidak bisa, aku maunya ketemu sama kamu" tegasku. Aku pikir, aku harus bertemu dia. dan aku harus jujur tentng perasaanku selama ini. bertahun-bertahun dipendam, membuatku sering melarikan diri, agar aku tak tahu, teramat ku ingin merindukanmu.

" Maaf, gue betul-betul gak bisa jalan sama kamu"

aku mendesah panjang.

"Oh, begitu.. bagaimana kalau kau tak sibuk saja, kita bertemu lagi..?!" ucapku sedikit menenangkan diri dan sengaja menutupi hatiku yang telah hancur,karena penolakan awalnya.

"iya, bisa saja" ucapmu kembali pendek.

dan.. tap. Langsung kututup Handphoneku dengan kecewa.
dan tak tahu karena apa, aku menangis untuk kesekian kalinya. 

aku merasa ia tidak menghargai niatku, untuk menceritakan semua perasaanku, hingga bertemu denganku saja, ia menolak, dan mencari alasan untuk tidak bertemu.

Baik--Aku usap buliran air mata di pipiku.
Aku tak ingin lagi menghubungi dirinya.

----
(dua)
Melarikan diri dari perasaan sedihku, 
adalah niatku meninggalkanmu, jauh. dan
tak ingin bertemu.
Tapi tak kusangka, ku masih teramat merindukanmu, hingga dalam tidurku saja, setiap hari, ada dirimu.

apakah, disaat kita ingin melupakan seseorang? malah begitu mudahnya memasuki alam bawah sadar kita?.

Baik--Aku putuskan tidak akan melupakanmu. Tapi aku akan bungkam, tak akan mau ungkapkan ini. Karena penolakanmu--entah aku merasa seperti tak menghargaiku.

Aku disini, di kamar yang telah lama aku tinggalkan, ku cari buku harianku, yang memang dari dulu ku tak ingin membukanya, karena aku menjadi ingat dirimu. Aku buka perlahan, buku harianku terlihat kusuh, hampir setahun aku tak membukanya, apalagi menulisnya, warnanya hijau tua dihiasi gambar boneka-boneka kecil--entah karena apa, aku begitu menyukai buku harianku itu--karena warnanya dan isi didalamnya.
Penuh dengan rindu tentang dirimu, dari dulu, dari empat tahun yang lalu, saat kita baru bertemu, hingga berpisah. dan tak pernah berjumpa.

----
(tiga)
hatiku berdegup kencang, jalannya tak berirama.
aku tak bisa tertidur nyenyak, ku mendengar suaramu dari Handphone sahabatku--entah bagaimana kamu bisa begitu akrab dengan dirinya-- sedangkan denganku, jarang sekali aku bisa akrab begitu denganmu.

Aku menelan ludah, pahit hingga menusuk hatiku--kuperbaiki posisi tidurku, hingga tak ada yang tahu, malam itu aku memang tidak sedang tidur, aku lebih ingin mendengar suaramu dan ceritamu--kudengar kau sakit--hatiku sedih mendengar itu, hanya ku tak ingin tampakkan, aku tak ingin di ketahui.

Sudah banyak aku berbuat dosa padamu--MAAF--kalau saja kata maaf itu bisa kusampaikan terus menerus padamu, hingga kau tak bersedih lagi, aku pasti lakukan, tapi aku tak ada daya. Bersalahku, teramatku malu padamu. Dulu kuabaikan kehadiranmu, hinggaku menjauh dari dirimu. Mencari pelarian hingga ku benar-benar melupakanmu. Tapi aku tak mampu.

Maafkan jika disaat kamu sendiri, aku tak bisa membuat kamu tersenyum, karena aku bukan orang yang bisa tampakkan itu, meski hatiku pedih, mendengar kamu sakit dan kamu menderita.

--Aku menerawang, masih antusias mendengarkan percakapanmu dengan sahabatku Lewat handphone itu--

"gue heran, ada temanku yang naksir sama aku, sepertinya dia suka sama gue.."
"wah.. jadi loe suka juga sama dia?" ucap sahabatku itu, membuat hatiku berdengup, berdetak,was-was akan jawabanmu--lama kita tak bertemu--tapi jantungku selalu berbeda kita aku mendengar kata-katamu.
"suka datang hongkong!, cewek itu bisanya pake perasaan aja!,, sekali-kali pake logika lah"
Aku masih mendengarkan.

"Masa iya, aku suka sama orang yang tidak tahu apa-apa tentang diriku?"

Kudengar sahabatku tertawa bersamamu. Entah dia bahagia karena apa, yang pasti-- aku berbaring dengan hati yang terluka. apakah yang dia bicarakan itu aku?--pikirku berkali-kali.

----
(Empat)
Lama tlah kutinggalkan masa itu.
disaat aku tergila-gila akan dan cerita tentang dirimu.
aku berdiri di Universitas yang selama ini aku impikan, Universitas Nottingham--beasiswa dari temannya pamanku, tak akanku sia-siakan, apalagi universitas ini menjanjikan kedokteran hewan yang selama ini aku impikan bisa terkabulkan. Sudah 2 tahun lebih aku berada disini.Aku merasa nyaman. Jauh dari dirmu. Meski, aku selalu teringat kata-katamu, bahwa orang yang berhak menyukaimu adalah orang yang mengenalmu lebih jauh. Aku tahu-- aku tak tahu apa-apa tentang dirimu. Tapi saat kudengar itu, terucap dari kata-katamu. 
Aku hanya bayangkan, kau telah kehilangan cinta sejatimu. Dan aku akan membuka lembaran baru disini, aku akan menikmatinya.

---
(lima)
"ting.. ting..ting.." Email di Laptopku berbunyi. Ada email masuk. entah dari siapa, paling Mahasiswa Jepang yang sering sekali mengirimiku kata-kata indah. Aku tersenyum saja, ku buka email itu sambil menikmati pancake yang diberikan tetangga sebelah Flatku, seorang nenek tua yang murah hati, tahu saja aku mahasiswa korea yang suka makanan kecil seperti ini.

aku mengerling membaca email itu, dan membuat jantungku berdetak khawatir.

Yong Mon sedang koma di seoul hospital, dia mengalami pendarahan, hingga otaknya mengalami penurunan daya ingat, ia 2 hari sudah disini,dan sanak keluarganya aku tak tahu alamatnya, bisakah kau datang sebentar kemari? tolonglah... pihak rumah sakit, menghubungiku, karena ada alamatku di buku notes kecilnya, sepertinya dia mengalami perampokan

aku tunggu.
sing min.


--aku terpana, mataku nanar--

---
(enam)
dan akhirnya aku disini, setelah membaca email dari sahabatku itu, aku langsung berkemas seadanya, tak peduli bagaimana kuliahku nanti, aku harus menemuimu. Aku harus tahu keadaanmu. Meski ku tahu, kamu begitu sering melukai hatiku, membuatku kecewa, hingga aku berlari, selalu berlari menghindari kesedihan karena kerindukanku padamu.

Kulihat dirimu, banyak alat pernapasan disekeliling badanmu, wajahmu yang putih dan sedikit gemuk dulu telah memudar, wajahmu agak kehitaman, tulang pipimu tirus, dan kamu kurusan. Ada apa dengan dirimu?
aku ingin kamu bisa baik-baik. Aku tak ingin benar-benar kehilanganmu.

---
(tujuh)
hampir setahun bulan aku menemanimu, dan setahun itulah hidupku berubah. Aku tahu dirimu divonis dokter korea itu, kamu mengidap penyakit Alzhaimer. Katanya karena benturan benda keras mengenai protein utama didalam saraf otakmu, hingga otakmu tak hanya mengerut yang didalamnya terdapat banyak sedimen protein yang tak menguntungkan--entah apa itu-- tapi ketidak tahuanku, bukan berarti aku tidak memperdulikan dirimu.

Kamu sendirian, aku dan singmin sudah mencari tahu tentang alamat keluargamu di korea, ternyata mereka telah pindah,sepertinya kamu memang sedang pergi atau mencari sesuatu. Sekarang kamu bersamaku. Dekat, tinggal di flat kecilku, aku beritahu pemilik flat ini bahwa kamu adalah suamiku yang kubawa dari korea, agar kamu bisa tinggal bersamaku, dan aku bisa merawatmu.

Aku tahu, aku dekat sekarang denganmu, hingga aku menipu hidupmu, dan hidup lingkungan, bahwa kamu adalah suamiku. dan kamu percaya itu. Tatapanmu yang sendu, lalu merasa kecapean, atau ingin meluangkan sayang, tak dapat membahagiakanku. Aku begitu masih khawatir tentang dirimu.

Aku tak ingin hidup seperti ini, aku ingin kamu bahagia dengan jujur, gara-gara penyakitmu itu, aku malah membohongimu. Tapi, aku sungguh sekarang, tak bisa lagi kehilangan dan jauh darimu. Apa yang harus ku perbuat sekarang?

---
(delapan)
"Sayang, jangan belajar terus, temani aku disini.." katamu lembut, disela-sela saat ku mengerjakan tugas kuliahku.
aku menggeleng lemah. Sungguh indah ucapannya. Jika aku tahu saja aku memang adalah istrinya. Aku mungkin akan berlari langsung pada dekapannya. Namun ku menggeleng lemah, ini yang selalu aku lakukan, jika dia menunjukkan rasa manjanya padaku.

"sayang, kamu harus istirahat khan? jangan lupa sebelum tidur minum obat di samping tempat tidur itu.." ucapku pura-pura tak peduli dengan ajakan manisnya tadi.

Ia kulihat merenggut kecil, lalu berbaring. Seprtinya terpaksa.

ku lihat kini ia sudah tertidur nyenyak, kuperhatikan wajahnya, ia tetap orang yang kucintai, lekukan hidungnya, pipinya, semuanya, dialah orangnya. Kini dia benar-benar bersamaku, dekat denganku. Hanya aku merasa bersalah, apa dengan begini aku bisa bahagia..?

"Aarrrggggghhhhhh.......!!!" suara itu mengangetkanku.
Kamu berteriak, ketakutan, dan menangis tiba-tiba. 
Aku langsung mendekatimu, dan kamu langsung memelukku erat. tangismu semakin menjadi dengan suaramu yang parau.

"aku takuut... sakit sekali kepalaku,, ada apa denganku.. kita dimana.."
ucapmu meraung-raung. Aku sedih sekali melihatmu seperti ini, tiap malam kamu selalu seperti ini, sangat terluka hatiku, lebih dari rasa luka yang sering kamu lakukan padaku.
"sabar ya sayang,, tenang.. kita baik-baik saja, semua baik-baik saja.." Ucapku kelu.

----
(Sembilan)
Aku kaget bukan main, keluargamu tiba-tiba ada didepan flat kita, dan menatapku dengan penuh amarah. mereka begitu membenciku. mereka datang kesini, untuk membawamu, dan membawa surat penangkapan atas diriku, karena aku sudah melakukan penculikan, dan penipuan terhadap dirimu.
aku sedih sekali, bukan--Bukan karena aku akan ditangkap, tapi karena wajahmu itu, kamu menatapku penuh pekat dan tanda tanya saat keluargamu--Yang asing padamu--memaksamu mengikuti mereka-- kamu memanggil-manggil namaku, meminta tolong padaku.

Aku hanya bisa menunduk, maaf. maaf. Kamu bukan disini tempatnya, maaf karena semua ini memang adalah salahku. aku yang memboyongmu tanpa alasan ke Inggris,aku hanya ingin merawatmu, hanya ingin membantumu, disaat semua orang meninggalkanmu bahkan keluargamu sendiri. Aku teramat mencintaimu.

----
(sepuluh)
Di Penjara Inggris ini, aku mulai tenang. aku yakin kamu juga akan baik-baik saja.
aku menghitung. 8 bulan lebih aku sudah disini, aku sengaja beritahu sing min, untuk tidak menebusku, dan tidak memberitahu keluargaku apa yang terjadi, kuliahkupun aku mengundurkan diri. Entah-- Aku ingin hidup nyaman dan jujur. Mungkin disinilah tempatnya. 

Aku ke Nottingham inipun karena memang ingin selalu melarikan diri darimu, hingga ku dengar kamu sakit, kita tinggal serumah, aku menjagamu, mendengar tawamu, lelucon untukku terus tersenyum, meski aku merasa beban, untuk membohongimu terus menerus.

Dan tak apa. Sekarang aku baik-baik saja sayang, aku berharap kamupun akan baik-baik saja, bersama keluargamu.

terdengar suara sipir wanita tua itu membuka pintu selku.

"Xie ling?" Ucapnya tegas.
Aku langsung terperangah, dari tadi aku memikirkanmu, hingga ku tak langsung menjawa pertanyaan sipir wanita tua itu,, aku hanya menggangguk pelan.
"Kamu dibebaskan, ada orang yang menjaminmu, ambil barang-barangmu di loker A, orang itupun menunggumu didepan.." ucapnya berlalu pergi.

Menjaminku? singmin? bukankah aku memintanya tak menjaminku. Jangan bilang teman jepangku itu? sudah kubilang, dulu bahwa aku sudah bersuami, meski pura-pura, aku merasa aman, dia tak menggangguku lagi, sekarang, mengapa dia harus mengejar sampai kesini.

---
(Sebelas)
Tertengun, aku melihat sosok yang ada dihadapanku, berswiter biru dia menatapku dengan lekat, lalu mendekatiku.

Aku--entah mengapa tak bisa menggerakkan badanku-- kaku-- tak menyangka siapa yang hadir di depanku. Itu kamu.

Kamu tersenyum. Begitu manis. Lalu kau selendangkan sebuah sweter biru yang mirip denganmu dipundakku,
"Sayang.. Maafkan aku terlambat menjemputmu" 

aku masih terkesima, apakah ini mimpi, apakah ini hanya khayalanku saja.

"ada apa..? kamu membenciku sayang? maafkan aku berulang kali,baru datang sekarng, aku banyak melakukan kemoterapi,pengobatan herbal di Cina, hingga aku kembali ke korea, aku bertemu singmin, sigmin banyak bercerita tentang kisahku dan dirimu sayang.. dan singmin juga memberikan photo-photo ini padaku.."

Kulihat kumpulan photo-photo kami berdua, semasa ia tinggal diflat kecilku. Aku terenyuh, mataku mulai berairan. 

"Aku ingin kembali padamu, jangan melarikan diri seperti ini terus.. aku ingin selalu bersamamu, aku ingat, kamu yang menjagaku,merawat hingga aku aman disaat aku masih sakit dulu, tapi ini bukan balas jasaku, Xing ling..."

Ia berhenti sesaat,ia manatapku lekat. Mata itu, mata kamu yang selalu aku rindukan, kini berhadapan pekat didepanku.

"aku membutuhkanmu, Xingling.. aku mencintaimu.. Maukah kamu hidup bersamaku selamanya..?" ia memegang tanganku erat. aku menangis. Apa ini mimpi Tuhan.

Bukankah dulu itu, aku membohonginya,, aku menipunya, mengapa dia bisa berbuat baik seperti ini.

" tidak..! , aku penjahat, sudah. Lupakan semua ini, aku harus pergi, terima kasih sudah membebaskan aku. jangan cari-cari aku lagi.." ucapku kasar,berairan mata,kulepas tangannya, lalu berjalan cepat menjauhinya.

Mengapa disaat aku ingin terus melupakannya, dia selalu hadir didekatku, mengapa membuatku begitu sulit membencinya,, mengapa begitu sulit aku tidak memikirkannya. Oh Tuhan, Bolehkah aku meminta satu hal, Jauhkan dia dari diriku. Aku ini orang jahat--dan tak pantas untuknya.

---
(Dua Belas)
"Tunggu, Xingling...!, jangan menghindar lagi" Ucapnya lantang merenggut tangan kananku.
"Apa yang kamu takutkan xing ling..?"

Aku masih tak menjawab. Aku harus berusaha melepaskan genggaman tangannya, tapi ini terlalu kencang. sakit sekali ia mencekram diriku.

"Kamu tak sayang lagi padaku? apa kamu membenciku..? ada apa xing ling.."

Aku menatap wajahnya lekat, wajah ini. ingin sekali ku memeluknya.

"aku tak sama sekali membencimu, apalagi berkata aku tak sayang padamu, Yong Mon. Tapi aku tak bisa bersamamu.." ucapku kelu.

Kamu mengerlingkan matamu, aneh.

"Kenapa kamu tak ingin bersamaku..? aku membutuhkanmu xingling,, hatiku terlalu lekat mengenalmu, dan penyakit alzheimerpun tak mampu untuk menghapusnya, aku mencintaimu.."

"Yong mon, aku tahu itu. Tapi aku tak bisa bersamamu. Dulu kamu pernah bilang, perempuan yang berhak mencintaimu adalah orang yang mengenal hidupmu, dan sekarang kamu temukan itu. Dan kamu ingin mencintainya. Tapi aku tak bisa. Karena aku tak mau menjadi wanita yang mengenal hidupmu lalu aku hidup selamanya bersamamu.."

Kamu menatapku heran.
"apa maksudmu..?"

"Tahukah kamu, kamu boleh bilang dulu aku tak tahu apa2 tentang hidupmu, tapi aku bisa pastikan kamu juga tak tahu apa-apa tentang cintaku padamu lebih dari yang kau tahu... "

"iya, sekarang aku tahu, kita saling mencintai.."

Aku menggeleng lemah.


"apakah aku boleh meminta sesuatu yongmin?"

"yup" ucapmu sambil tersenyum padaku.

"tinggalkan aku?" ucapku sedih.

"Tidak" katamu lembut disampingku.

Aku langsung membuang mukaku.Keras kepalanya mulai lagi menjalari sifatnya.

"tak peduli, aku dulu tak menyukaimu karena kamu tak mengenalku.. tak peduli kamu dulu menyukaiku meski aku tak tahu, aku tak peduli xie ling, rasaku berbeda dengan rasamu.."

Aku kaget dengan ucapannya, tapi entah-- hatiku gembira. Meski ucapannya hanya sederhana.

"Xing ling sayang, aku tahu semua itu, tapi kamu tidak kah berpikir 8 bulan ini aku selalu mencarimu, bertanya tentang dirimu, orang yang selalu menemaniku saat aku sendiri, orang yang ada disaat aku lemah, aku merindukanmu xing ling, kekasih hatiku.. apakah kamu tidak begitu.. apakah kamu tidak merindukanku saatku memakan bubur ayammu yang gosong, atau bakmiemu yang terlalu lembek..." ucapnya melihat teduh kearahku.

Aku tersenyum, Dia ingat itu. aku ingat ucapannya dulu saat memakan makananku yang tak enak, "gak apa sayang, aku hanya tahu 2 rasa dihidupku, apalagi memakan masakan kekasihku, enak dan enak sekali..!" ucapnya dulu meyakinkanku.

Aku tertawa kini. Aku menatapnya lagi. Bolehkah aku memeluknya sekarang Tuhan? Bolehkan?!

"ada apa? kenapa kamu tak menjawab pertanyaanku, xing ling sayang..?"

aku menggeleng lemah, lalu sedikit kuat, agak kuat dan kuat yang banyak.

"tidak..tidak.. kamu tak perlu mendengar jawaban dariku" ucapku terisak tangis, sweter biru yang tadi dipundakku menjadi tempatku membersihkan air mataku.

" kamu betul-betul ingin pergi kah sayang..?"

aku menggeleng lagi, sama yang aku lakukan tadi diawal. menggeleng lemah, lalu sedikit kuat, agak kuat dan kuat yang banyak.

"bukan, bukan itu. Dari dulu aku tak pernah berubah, selalu mencintaimu, meski kau tak tahu, meski kau menyakiti hatiku, meski kau tak ada di tatapanku.. aku rindu.." suaraku parau, karena tangisku mulai membasahi wajahku.

Suaraku tertahan, pada pelukanmu di sekitar pundak belakangku,

"aku tahu itu sayang.. "
Pagi itu, serasa berbeda, meski hujan deras di pelataran teras Penjara Nottingham ini, tapi aku tak merasa sedingin saat aku berada di penjara. Hatiku hangat, dan bahagia.
-----